Posts Mentioning RSS Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • almahira 6:28 am on April 23, 2009 Permalink | Reply  

    Temilnas 2009 

    Alhamdulillah..

    Menurut salah seorang rekan, saya mendapat kesempatan tuk mengikuti kegiatan Temu Ilmiah Nasional 2009 yang akan diselenggarakan di Kota Solo bulan Juli-Agustus mendatang.

    Terima kasih ya Allah,, atas semua kesempatan yang telah diberikan untuk alma…

     
  • almahira 6:12 am on April 23, 2009 Permalink | Reply
    Tags: pengemis   

    Dilematis Pengemis Jalanan 

    Masalah pengemis adalah masalah yang pelik. Ia tidak bisa dilihat hanya dari satu sudut pandang. Masalah pengemis, pengamen, dll., merupakan masalah dari berbagai aspek, seperti politik, sosial, dan ekonomi. Tergantung dari kacamata mana kita memandangnya.

    Banyak alasan yang mendasari seseorang atau sekelompok orang terjun menjadi pengemis. Pertama, karena secara lahir mereka cacat dan tidak memiliki kemampuan untuk bekerja, pun tak ada yang menangung biaya hidupnya. Mereka memperlihatkan kecacatannya untuk mengundang belas kasih orang lain.

    Kedua, karena tidak mampu untuk membayar biaya sekolah. Ketiga, karena terpaksa. Entah terpaksa oleh keadaan atau dikoordinir oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Masih ada banyak alasan lain yang membuat seseorang mengemis dijalanan, dengan metoda mengemis yang lebih variatif tentunya. Bila ditinjau lebih dalam, akar permasalahan fenomena ini hanya satu: kemiskinan. Entah itu miskin materi, pendidikan, atau miskin usaha.

    Fenomena pengemis telah menjadi sumber masalah di kota-kota besar di Indonesia, khususnya Jakarta. Mereka mengganggu ketertiban umum, seperti kawasan lalu lintas di persimpangan lampu merah, hingga mengganggu ketertiban masayarakat.

    Pemerintah Bertindak

    Mengatasi fenomena tersebut diatas, pemerintah daerah, khususnya Pemda Jakarta menetapkan peraturan baru tentang Ketertiban Umum.  Salah satu yang ketertiban yang diatur adalah mengenai larangan kepada masyarakat untuk membeli sesuatu dari pedagang asongan atau memberikan sejumlah uang kepada pengemis, pengamen dan pengelap mobil.

    Pemda tidak main-main. Terdapat pula aturan yang memuat sanksi pidana pagi masyarakat yang melanggar, yakni kurungan selama 10 hingga 60 hari, atau denda antara Rp100 ribu hingga Rp20 juta. 

    Peraturan yang betujuan untuk mewujudkan suasana perkotaan yang kondusif, aman, nyaman dan tertib ini cukup menimbulkan banyak kontroversi. Menghukum pelanggar aturan ini sama artinya dengan melarang masyarakat untuk bersedekah. Bukahkah itu melanggar hak pribadi/asasi orang untuk berbuat sesuatu untuk orang lain? Apalagi dalam agama, bersedekah itu memiliki nilai yang baik.

    Penulis menyayangkan keputusan pemerintah, khususnya pemda Jakarta dalam membuat aturan ini. Mengapa tidak dikedepankan upaya preventif, seperti yang dilakukan Pemda Makassar? Dimana pemerintah menghimbau masyarakat untuk tidak memberikan uang kepada pengemis karena hanya akan membuat mereka bertahan di jalanan, tanpa ada sanksi bagi pelanggarnya.

    Di Makassar sendiri, teknik ini terbukti cukup ampuh dalam menekan laju pertumbuhan pengemis. Aturan Pemda Jakarta seolah memposisikan masyarakat sebagai ’orang bodoh’. Masyarakat Indonesia cukup cerdas dalam menilai sebuah permasalahan. Tanpa melalui ancaman pidana pun, penulis yakin akan banyak orang yang mendukung imbauan tersebut.

    Solusi

    UUD 1945 yang menyebutkan tiap-tiap warganegara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.  Dalam pasal lainnya, ada aturan bahwa fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh Negara.

    Adalah tugas pemerintah untuk memikirkan program pembangunan yang lebih kooperatif bagi keberadaan pengemis. Selama ini mereka cenderung mendapatkan perlakukan yang diskriminatif, terutama dalam hal mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak. Karenanya pemerintah harus segera membuat sebuah program dimana mereka dapat berkompetisi secara fair.

    Pemerintah tidak boleh lepas tangan begitu saja dan menghukum pengemis dengan peraturan ini. Pemerintah perlu menyediakan sarana dan prasarana bagi pengemis, seperti rumah singgah. Mereka pun diberi keterampilan dan modal usaha agar bisa mandiri. Selain itu, pemerintah juga perlu bekerja sama dengan  para tokoh agama untuk memberikan penjelasan kepada para pengemis tentang larangan agama, khususnya larangan mengemis.

    Mengemis bukanlah suatu pilihan bagi banyak orang, melainkan sebuah keterpaksaan. Banyak orang dari daerah datang ke kota besar akhirnya mengemis karena tidak mampu bersaing dengan orang-orang disana. Menganggapi ini, pemerintah perlu menggalakkan dan mempopulerkan kembali program reurbanisasi dan transmigrasi. Banyaknya masalah dalam program tersebut, yang membuat banyak orang enggan mengikuti, harus diperbaiki secara menyeluruh. 

    Kita Membuat Mereka Bertahan

    Diluar persoalan agama dan pelanggaran ketertiban umum, setiap receh yang kita berikan kepada para pengemis membuat mereka betah menengadahkan tangannya kepada orang lain. Sedekah yang kita berikan, malah membuat pengemis semakin tergantung. Ujung-ujungnya, mereka akan menjadikan kegiatan mengemis sebagai mata pencahariaannya.

    Dengan mengamen, mengemis, menyapukan kemoceng di atas dashboard mobil, atau menyodorkan amplop sumbangan, satu anak jalanan usia SD bisa memiliki penghasilan yang beda tipis dengan lulusan diploma. Begitu mudah bagi mereka. Tanpa perlu capek-capek sekolah, susah-susah melamar kerja, hasilnya hampir sama.

    Kenyataannya, uang yang diperoleh pengemis, khususnya pengemis anak-anak, sebagian besar tidak mendukung peningkatan kesejahteraan mereka. Hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan sejumlah LSM. Jajan, ada di peringkat pertama; main dingdong atau permainan elektronik lainnya, menjadi pilihan kedua; terakhir, setoran ke orang tua atau inang/senior sebagai pelindung mereka di jalanan. Mereka tetap miskin, tetap terancam putus sekolah, dan tetap berkeliaran di jalan.

    Sikap Sebagai Masyarakat

    Pada akhirnya, sikap kita terhadap keberadaan mereka kembali pada keputusan masing-masing individu. Kita bisa mengganti uang receh dengan bantuan lain yang bisa mereka nikmati dengan langsung, misalnya sepotong roti untuk  makan mereka.

    Bila kita berniat untuk sedekah, ada baiknya sedekah itu disalurkan melalui Bazis (Badan Amil, Zakat, Infak, dan Shadaqah), meski jumlahnya sangat sedikit. Menyalurkan sedekah lewat lembaga amal lebih aman daripada memberi di jalanan. Selain itu, lembaga ini akan memberikan sedekah pada orang yang berhak dan tepat sasaran, sehingga tidak perlu khawatir akan adanya penyelewengan. Alma

     
  • almahira 6:05 am on April 23, 2009 Permalink | Reply  

    Apa Impianmu? 

    Tuliskan semua impianmu! Apa saja, tak kurang dari seratus!

    Itu adalah ucapan dari kakak mentorku saat mentoring mingguan di kampus. Kupikir, ada bagusnya juga. Harus kuakui selama menjadi mahasiswa, aku belajar menjadi orang yang lebih teratur dan lebih fokus pada apa yang ada di depan mata sekarang. Banyak hal di masa kecil yang seringkali terlupakan karena kesibukan sebagai mahasiswa. Salah satunya adalah mimpi tentang menjadi apa di masa depan. 

    Impian, harapan, asa, cita, bahkan mimpi membuat hidup manusia menjadi lebih berharga. Itu yang kupelajari dari berbagai macam literatur. Sebelumnya, aku tak berniat tuk menuliskan hal-hal yang kuimpikan. Seperti buang-buang waktu dan kurang kerjaan. Tapi pada akhirnya, tulisan-tulisan itu menjadi sumber kekuatan bagiku. Kekuatan tuk terus maju dan pantang menyerah. Kekuatan tuk terus berkarya dan usaha tuk mewujudkannya menjadi nyata.

    Ketika berusia 4 tahun, aku memiliki urutan cita-cita yang cukup berpengaruh dalam kehidupanku selanjutnya. Meskipun aneh, urutan cita-cita ini menentukan pilihan apa yang ingin kuambil saat kuliah: astronot, dokter, guru, ibu rumah tangga.

    Melalui tulisan ini, aku ingin berbagi sedikit mengenai beberapa hal yang kuharapkan terjadi dalam hidupku. Entah menjadi bagian dari sebuah komunitas, berharap mengunjungi suatu tempat, menginginkan sebuah peran, bahkan berkhayal berada di dalam negeri dongeng. Mulai dari yang mustahil hingga benar-benar mungkin tuk diwujudkan. Siapapun yang membaca tulisan ini, harus ikut mencobanya!

    Inilah impianku..

    Bisa terbang

    Ini mimpiku sejak SD. Aku ingin bisa terbang dan kan kugunakan kemampuan ini tuk berkeliling di malam hari. Menikmati indahnya lagit dan suasana di malam hari, memperhatikan kegiatan orang-orang, atau sekedar berkunjung ke rumah kerabat. Apalagi setelah membaca cerita Goosebumps yang berjudul Ramuan Ajaib, keinginanku ini semakin menggebu-gebu. Tapi, jangankan impian terbang menjadi nyata, naik pesawat terbang pun aku belum pernah. Hiks..

    Pergi ke luar angkasa

    Aku ingin jadi astronot di masa depan dan melihat banyak hal yang tidak kutemui di bumi. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya memakai pakaian astronot, melayang-layang di luar angkasa, dan mengetahui bagaimana gelapnya jagat raya. Sayang, tak sampai dua tahun, impian urutan pertama ini langsung ku kubur setelah tahu bahwa menjadi astronot peluangnya terlalu kecil.

    Jadi pembawa acara discovery channel

    Artinya bisa berkeliling dunia dan mengamati banyak hal di alam. Berpetualang dari satu hutan ke hutan lain, menyusuri garis pantai, mempelajari berbagai jenis flora dan fauna diseluruh dunia.

    Jadi guru TK

    Anak-anak itu lucu. Tepatnya tidak tahu apa-apa. Maksudku, bagaimana karakter mereka di masa depan ditentukan oleh orang-orang disekitarnya saat usia kanak-kanak. Aku ingin sekali menjadi guru TK, mendidik anak-anak bagaimana menghargai orangtua, menjadi teman yang baik, bekerja sama dalam tim, dan yang lebih penting membuat mereka tahu bagaimana menjadi diri sendiri. 

    Jadi pendongeng yang seru!

    Walaupun bukan seorang profesional, setidaknya aku pernah mendongengkan kisah kucing kepada adikku saat ia berusia 4 tahun. Kalau orang dewasa yang mendengarnya, pasti dianggap aneh dan sangat membosankan. Lain halnya dengan anak kecil yang selalu penasaran dan belum mengenal apa itu aneh atau bukan. Bagi mereka yang penting menarik. Makanya, aku ingin sekali menjadi seorang pendongeng yang seru untuk anak-anak.

    Jadi Gretel di cerita Hans and Gretel (tentu tanpa ada sang penyihir)

    Karena aku suka sekali coklat. Pasti menyenangkan kalau aku bisa makan coklat setiap hari dan memandangnya dalam bentuk yang bagus: rumah coklat. Dalam dongeng Hans and Gretel, rumahnya terdiri dari coklat dan permen. Berhubung aku lebih suka coklat, aku tidak keberatan berbagi permen pada orang yang menginginkannya.

    Jadi anak kecil selamanya

    Terinspirasi dari kisah Peter Pan dari Neverland dan buku The Little Prince karya Antoine de Saint Exupéry. Kata teman sekostan, ada bagian dimana menjadi anak kecil itu menyedihkan. Ia hanya tahu bermain, tidak tahu banyak hal di dunia ini, apalagi mencari penyelesaian masalah secara mandiri. Temanku itu ada benarnya juga, tapi menurutku, menjadi anak kecil adalah pilihan. Bukan tuk melarikan diri dari kenyataan, melainkan tuk menjadi diri sendiri. Sehingga, jiwa anak-anak itu sangat penting untuk dipertahankan hingga kita dewasa.

    Punya Sahabat

    Sahabat adalah pencuri kebiasaan.

    Sahabat adalah orang yang paling seru diajak makan eskrim.

    Sahabat bukan orang yang kemana-mana harus bareng.

    Sahabat bukan orang yang membenarkan semua tindakanmu.

    Sahabat bukan orang yang harus selalu ada disampingmu.

    Sahabat adalah orang yang mendukung dan memberimu kekuatan baru tuk menatap dunia.

    Setidaknya, itu yang kupahami akan makna persahabatan.

    Jadi penulis

    Penulis itu beda lho dengan pengarang. Setidaknya itu yang aku yakini. Diluar negeri, penulis itu merupakan sebuah profesi utama dan aku pikir sepertinya itu menarik. Menjadi penulis dengan latar belakang pendidikan kesehatan adalah satu bentuk pengabdian untuk mencerdaskan masyarakat. Dengan sebuah tulisan dan tanpa harus banyak bicara,  seseorang bisa mengedukasi beribu-ribu orang dalam waktu yang bersamaan.

    Aku yakin, impian menjadi penulis bukan sesuatu yang mustahil. Usahaku untuk menulis memang belum serajin teman-teman yang lain, tapi paling tidak aku sudah berusaha untuk menulis.

    Jago gambar

    Sayang, aku tidak memiliki bakat dalam menggambar. Kadang, aku sedih karena tidak bisa menginterpretasikan imajinasi warna dalam kepalaku. Kadang kesal juga karena masuk kepanitiaan publikasi atau dekorasi hanya untuk mengorganisir dan bantu-bantu saja tanpa memikirkan konsep.

     

    Jadi tukang listrik

    Ini karena ayahku seorang teknisi. Semua hal yang berkaitan dengan perlistrikan di rumah dikerjakan oleh beliau, dan menurutku itu keren! Meski impian menjadi insinyur elektro tidak kesampaian, aku cukup puas karena pernah ikut mengotak-atik kabel PLN di langit-langit rumah.

    Jadi relawan di tempat pengungsian

    Aku ingin membantu para pengungsi sebisaku. Aku ingin kualitas hidup mereka menjadi lebih baik, mengajarkan pada mereka kemampuan apa saja yang bisa mereka kembangkan, memberi bantuan kemanusiaan, mendengar aspirasi mereka, membuat mereka lebih positif dalam menata masa depan, memberi pendidikan pada anak-anak mereka, menjaga stabilitas emosi, psikologis, dan hak-hak anak di sana, dan tentunya meningkatkan kesehatan mereka.

    Aktif di LSM untuk anak dan perempuan

    Bukan. Bukan karena aku perempuan. Hanya saja setelah kupelajari, ternyata banyak masalah di masyarakat terkait dengan anak atau perempuan. Lagipula, kalau kita menilik permasalahan bangsa ini, kuncinya adalah anak dan perempuan (ibu). Jika Indonesia ingin maju, maka majukanlah dari lapisan masyarakat yang paling dasar: keluarga. Keluarga akan membina generasi selanjutnya dan itu terkait dengan kemampuan orangtua, khususnya ibu, dalam mendidik anaknya.

    Ahli ekonomi syariah

    Ini salah satu alasan kenapa aku seneng banget dengar cerita sepupuku yang bekerja di BMT (Baitul mal wa Tamwil) dan kakak kelasku di fakultas ekonomi mengenai ekonomi syariah. Bukan karena itu yang disyariatkan oleh agamaku, melainkan kondisinya yang tetap stabil ketika krisis moneter tahun 1998 yang menarik perhatianku. Ekonomi syariah juga merupakan solusi tepat bagi usaha mikro bagi masyarakat kecil. Sayang, aku tidak tertarik kuliah di ekonomi.

    Jadi ahli dibidang teknologi pangan

    Penduduk dunia semakin hari semakin bertambah banyak, namun ini semua tidak dibarengi dengan ketersediaan pangan yang cukup. Tugas seorang ahli teknologi panganlah untuk mencari dan menciptakan inovasi baru dalam penemuan sumber pangan. Tugas yang sangat keren bukan?

    Jadi ahli gizi

    Tak perlu semua hal tentang gizi kupahami bukan? Minimal, dengan menjadi konsultan gizi bagi keluargaku sendiri itu sudah lebih dari cukup.

    Kuliah di kedokteran

    Agak aneh, aku tidak punya tujuan lain selain menjadi dokter setelah astronot. Banyak hal yang menarik minatku, seperti menjadi insinyur pertanian, akuntan, pengusaha, ahli pangan, psikolog hingga ahli komputer, tetapi aku hanya ingin belajar menjadi dokter. Berlebihan sih, tapi keyakinan bahwa aku ingin menjadi dokter ini tak pernah kuabaikan. Banyak orang bilang bahwa masuk kedokteran itu membutuhkan dana beratus-ratus juta dan itu cukup membuatku jiper. Kenyataannya, aku tak perlu membayar mahal seperti kata orang. Ini membuatku semakin yakin, keadaan seperti apapun kita, kalau tekad dan keyakinan ada, semua hal yang kita impikan bisa terwujud. (doakan lulus tepat waktu ya!)

    PTT di Kalimantan

    Kata orang, PTT itu singkatan dari pegawai tidak tetap. Kata orang juga, sebelum era reformasi, PTT di daerah terpencil itu wajib untuk dokter yang baru lulus. Walaupun tidak ada kewajiban lagi bagi dokter baru untuk PTT sekarang, aku tetap ingin memiliki pengalaman seperti cerita orang-orang dulu.

    Awalnya, aku bercita-cita tuk ambil PTT di Papua, tetapi setelah kuliah di kedokteran, lokasinya berubah menjadi Kalimantan, tepatnya Kalimantan Barat. Ibuku orang Sunda, sedangkan ayah orang Melayu. Karena tinggal di Jawa Barat, seluruh keluarga dari pihak ibu ku kenal satu persatu. Sayangnya, hanya sebagian kecil dari keluarga ayah yang ku kenal, itu pun karena mereka datang ke rumah. Kalau aku berhasil PTT di Kalimantan, aku berencana untuk mengenal saudara-saudaraku dari pihak ayah. Jadi, sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui; mendapat pengalaman, mengabdi pada masyarakat, dan mengenal keluarga. (semoga impian ini menjadi nyata)

    Setelah kau tulis semuanya, barulah dipilah. Mana yang lebih prioritas dan bisa kau capai. Kemudian, fokus pada hal itu.

    Itu kalimat penutup dari teteh mentorku. Karena pada akhirnya, kita harus memilih, mana impian yang bisa terwujud dan mana yang tidak. Meski kedengarannya menyedihkan, kita tak mungkin mewujudkan semua hal yang kita inginkan.

    Menjadi mahasiswa artinya belajar untuk fokus akan menjadi apa kita nanti. Jujur, agak membingungkan bagiku. Motivasi menolong orang, tanpa membuat daftar yang spesifik membuatku sulit mengetahui apa yang sebenarnya akan kulakukan nantinya. Apalagi, hal yang ingin kuraih akan sulit terwujud karena aku mempelajari hal berbeda dengan apa yang kucitakan. Tetapi dengan menuliskan semua impian, aku seperti memiliki sebuah peta. Sehingga aku bisa mencari tahu kira-kira di bagian mana aku bisa berkontribusi tanpa harus menjadi ahli di bidang tersebut.

    Tidak semua hal yang kita impikan akan menjadi nyata. Tapi tetap, memiliki banyak impian itu penting. Kita tak pernah tahu, impian besar atau impian kecil yang akan merubah hidup kita di masa depan. Jadi, jangan pernah takut tuk bermimpi.

    ”Apa impianmu?”

     

     
  • almahira 5:53 am on April 23, 2009 Permalink | Reply  

    Selamatkan Bumi Lewat Media 

    Global Warming, Sebuah Masalah

    Pemanasan global atau yang biasa dikenal dengan Global Warming merupakan sebuah kondisi dimana suhu bumi meningkat beberapa derajat celcius dan mengakibatkan banyak masalah bagi umat manusia di dunia. Penyebab utama dari global warming adalah efek gas rumah kaca, terutama gas CO2. Gas CO2  mempunyai peranan yang cukup besar dalam mempertahankan suhu bumi. Ia memiliki kemampuan untuk menyimpan panas sehingga suhu atmosfer tetap stabil. Namun, sejak dimulainya revolusi industri pada abad 18, produksi gas ini semakin  melimpah sehingga panas yang dimiliki bumi berlebihan.

    Bayak hal pemicu terjadinya global warming. Industri merupakan salah satu kunci utama dalam masalah ini, tetapi kita tak dapat menutup mata bahwa hampir setiap kegiatan yang kita lakukan sehari-hari ikut memperburuk keadaan yang ada. Khusus untuk Indonesia, ia merupakan penyumbang CO2 terbesar di kawasan Asia Tenggara akibat kebakaran hutan yang terjadi hampir setiap tahun. 

    Efek Global Warming Terhadap Dunia

    Pengaruh utama dari global warming adalah perubahan suhu bumi. Tetapi, bukan berarti masalah berhenti hanya sampai disitu. Ada banyak masalah timbul di berbagai bidang, bahkan hampir diseluruh aspek kehidupan manusia. Mari kita ambil contoh yang paling dekat dengan kehidupan kita. Hal yang paling terasa adalah adanya perubahan iklim. Bila dulu, semasa SD, kita mempelajari bahwa musim hujan di Indonesia turun di bulan Oktober-April, kini hal tersebut sudah tidak dapat diprediksi kembali.

    Tentunya ketidakjelasan iklim ini merugikan banyak pihak, khususnya petani.  Bisa ditebak, akibatnya terjadi krisis pangan dibeberapa daerah yang ujung-ujungnya bisa merembet hingga masalah ekonomi dan kesehatan.

    Itu baru satu dari sekian banyak masalah yang timbul. Mencairnya es di kutub, gelombang panas di india yang memakan korban, meningkatnya kasus kanker kulit,  kekeringan, banjir, kenaikan pasang air laut, dan masih banyak lagi kasus-kasus yang jumlahnya makin membengkak setiap tahunnya.

    Lalu, darimanakah kita, yang tidak mengalami kejadian diatas, mengetahui efek tersebut? Jawabannya adalah media. Tanpa kita sadari, media telah menjadi bagian penting dalam kehidupan umat manusia, sehingga ini bisa menjadi alat yang tepat sebagai kampanye penyelamatan bumi.

    Mengapa Media?

    Kita tak bisa mengelak dari kenyataan bahwa media memiliki peran ”mengerikan” dalam pembentukan opini publik. Sebuah informasi yang salah pun bisa dianggap benar bila terus-menerus dipublikasikan sebagai sebuah kebenaran.

    Kabar baiknya, media kini mulai gencar dengan pemberitaan mengenai global warming. Mulai dari informasi mengenai penyebab hingga hal-hal kecil yang bisa dilakukan seorang individu dalam usaha pencegahan  global warming yang semakin parah. Kampanye global warming sama artinya dengan kampanye peduli lingkungan. Dan bila kita melihat tren yang sedang berkembang di masyarakat, peduli lingkungan sudah menjadi gaya hidup yang tak dapat dipisahkan dalam kehidupan modern ini. Siapa yang berperan? Lagi-lagi jawabannya adalah media.

    Secara umum, terdapat 2 klasifikasi besar dalam penggolongan media: cetak dan elektronik. Semakin hari, bentuknya pun semakin inovatif. Mulai dari koran, booklet, buletin, majalah, radio, televisi, hingga internet. Belum lagi informasi-informasi tersebut bisa kita akses dimana saja, seperti melalui telepon genggam. Selain itu, kita juga bisa menjadi bagian dari pemberi informasi tersebut.

    Mahasiswa dan Media

    Apa yang bisa dilakukan seorang mahasiswa sebagai upaya pencegahan global warming agar tidak semakin parah? Banyak hal yang bisa kita lakukan sebenarnya. Kita semua tahu, topik mengenai global warming sudah umum berkembang di masyarakat, bahkan kita akan di cap tidak aware bila tak acuh terhadap masalah yang satu ini.

    Bila jeli, kita akan menemukan banyak tips di media, baik cetak maupun elektronik, mengenai pola hidup yang sesuai agar tidak semakin ”merusak” bumi. Misalnya, kampanye anti tas plastik, menanam pohon di rumah, atau sekedar membuka jendela lebar-lebar untuk penghematan penggunaan AC.

    Lalu pertanyaannya adalah: ”Mengapa kita tidak menjadi bagian dari kampanye di media tersebut?” Salah satu kemampuan mahasiswa yang paling potensial adalah menulis. Bukan berarti peranannya dalam kegiatan lain tidak penting, melainkan dengan menulis, seorang mahasiswa bisa memberikan kontribusinya kepada masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung.

    Media cetak khususnya, kini telah banyak yang memiliki kolom khusus bagi mahasiswa. Kita bisa menunjukkan kepedulian kita dengan menjadi penulis disana. Selain itu, kita bisa memanfaatkan media elektronik, khususnya internet, sebagai upaya kita dalam berkontribusi. Salah satu contoh yang paling real adalah dengan membuat blog dan mem-posting tulisan tentang kampanye global warming. Karena blog bersifat pribadi, kita bebas menulis apa saja, seperti mengkritik kebijakan pemerintah yang tidak mendukung gerakan anti global warming. Bahkan bila enggan menulis, kita bisa berkontribusi dengan memasang banner website yang aktif mengkampanyekan hal tersebut di blog, atau hanya sekedar berpartisipasi dalam sebuah forum dunia maya.

    Pada akhirnya, media memang tidak bisa lepas dari peranannya sebagai penyukses gerakan anti global warming. Terkadang, pengaruhnya tidak berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Namun, kita tidak boleh pesimis dan harus yakin serta tetap semangat untuk memberikan kontribusi bagi masyarakat melalui media.

     
c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
esc
cancel