Never Ending Study

sebuah pembelajaran tiada henti

Seks Remaja


24 Mei 2008
Tulisan kedua alma di MCR, walaupun sebenarnya bukan murni hasil pemikiran dan lebih ke copi-paste data yang alma dapat dari internet. Materi ini kurang alma kuasai. Bukannya alma ga ngerti, tapi alma Cuma ga mau sok tahu tanpa ada reference yang jelas.

Perilaku dan Resiko Seks Remaja

Perilaku Seksual

Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis. Bentuk-bentuk tingkah laku ini dapat beraneka ragam, mulai dari perasaan tertarik hingga tingkah laku berkencan, bercumbu dan senggama. Obyek seksual dapat berupa orang, baik sejenis maupun lawan jenis, orang dalam khayalan atau diri sendiri.

Dorongan atau hasrat untuk melakukan hubungan seksual selalu muncul pada remaja, oleh karena itu bila tidak ada penyaluran yang sesuai (menikah) maka harus dilakukan usaha untuk memberi pengertian dan pengetahuan mengenai hal tersebut.

Berbagai perilaku seksual pada remaja yang belum saatnya untuk melakukan hubungan seksual secara wajar antara lain dikenal sebagai :

— Masturbasi atau onani yaitu suatu kebiasaan buruk berupa manipulasi terhadap alat genital dalam rangka menyalurkan hasrat seksual untuk pemenuhan kenikmatan yang seringkali menimbulkan goncangan pribadi dan emosi.

— Berpacaran dengan berbagai perilaku seksual mulai dari berpegangan tangan, barpelukan, berciuman, necking, petting, hubungan seksual, sampai dengan hubungan seksual dengan banyak orang yang pada dasarnya adalah keinginan untuk menikmati dan memuaskan dorongan seksual.

— Berbagai kegiatan yang mengarah pada pemuasan dorongan seksual yang pada dasarnya menunjukan tidak berhasilnya seseorang dalam mengendalikannya atau kegagalan untuk mengalihkan dorongan tersebut ke kegiatan lain yang sebenarnya masih dapat dikerjakan.

Sebagian perilaku seksual (yang dilakukan sebelum waktunya) justru dapat memiliki dampak psikologis yang sangat serius, seperti rasa bersalah, depresi, marah, dan agresi.

Sementara akibat psikososial yang timbul akibat perilaku seksual antara lain adalah ketegangan mental dan kebingungan akan peran sosial yang tiba-tiba berubah, misalnya pada kasus remaja yang hamil di luar nikah. Belum lagi tekanan dari masyarakat yang mencela dan menolak keadaan tersebut. Selain itu resiko yang lain adalah terganggunya kesehatan yang bersangkutan, resiko kelainan janin dan tingkat kematian bayi yang tinggi. Konsekuensi dari kehamilan remaja ini adalah pernikahan remaja dan pengguguran kandungan.

Kasus-kasus kehamilan yang tidak dikehendaki sebagai akibat perilaku seksual di kalangan remaja mulai meningkat dan tahun ke tahun. Meski sulit diketahui pasti, di Indonesia angka kehamilan sebelum menikah, tetapi dari berbagai penelitian tentang perilaku seksual remaja, menyatakan tentang besarnya angka kehamilan remaja.

Remaja dan Seks

Berdasarkan hasil penelitian, hubungan seks pertama kali biasanya dilakukan dengan pacar (71 persen), teman biasa (3,5 persen), suami (3,5 persen); inisiatif hubungan seks dengan pasangan (39,8 persen), klien (9,7 persen), keduanya (11,5 persen); keputusan melakukan hubungan seks: tidak direncanakan (45 persen), direncanakan (20,4 persen) dan tempat yang biasa digunakan untuk melakukan hubungan seks adalah rumah (25,7

persen) hotel (13,3 persen).


Alasan para remaja tersebut melakukan hubungan seks, karena semua itu terjadi begitu saja tanpa direncanakan. Hasil penelitian juga memaparkan para remaja tersebut tidak mempunyai pengetahuan khusus serta komprehensif mengenai seks. Informasi utama mereka didapatkan dari kawan sebanyak 65% atau film porno sebanyak 35%, untuk sekolah dan orang tua masing-masing sebanyak 19% dan 5%. Dan, sebanyak 81% remaja tersebut mengakui lebih nyaman berbicara mengenai seks dengan kawan-kawannya..

Menariknya, 64% remaja mengakui secara sadar bahwa melakukan hubungan seks sebelum menikah melanggar nilai dan moral agama. Tetapi, kesadaran itu ternyata tidak memengaruhi perbuatan dan perilaku seksual mereka.

Untuk itu, pendidikan seks sebaiknya dimulai bila anak sudah mempunyai perhatian terhadap seks. Bila ada anak yang bertanya tentang seks, harus dijawab dengan benar sesuai usianya. Agar tidak terjadi kesalahan persepsi di kemudian harinya.

Selain memberikan pendidikan seks yang benar, para pendidik yakni orangtua dan guru juga bertugas mengarahkan dan mendukung kegiatan-kegiatan remaja ke arah positif , seperti kegiatan olah raga dan seni.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 23, 2008 by in MCR Bandung.
%d bloggers like this: