Never Ending Study

sebuah pembelajaran tiada henti

Antara Pemilu, Paku, dan Pulpen


Saya mahasiswa. Tugas saya belajar.

Yup, idealnya memang seperti itu. Namun bila kita melihat kembali di awal abad ke-20, saat pergerakan kebangkitan Indonesia dimulai, siapakah yang pertama kali berinisiatif? Mahasiswa. Para dokter boleh berbangga dengan dr. Sutomo sebagai salah satu pendiri Budi Utomo, sebuah organisasi perjuangan pertama di Indonesia.

Kita bandingkan kembali kondisi di zaman 100 tahun lalu dengan sekarang. Bila itu terlalu jauh rentang waktunya, mari kita ingat kembali perjuangan mahasiswa saat runtuhnya rezim orde baru 10 tahun silam. Banyak aksi yang terjadi di tahun 1998 untuk menurunkan Soeharto, banyak protes dari mahasiswa menentang kebijakan pemerintah. Namun sekarang pertanyaannya adalah: Apa yang bisa mahasiswa berikan di zaman reformasi ini? Ketika sumbangsih mahasiswa tidak harus selalu bermuatan politis atau sesuatu hal yang mengharuskannya terjun langsung ke masyarakat.

Salah satu kontribusi seorang mahasiswa yang bisa diberikan kepada masyarakat adalah sebuah pemikiran. Pemikiran itu tidak harus sesuatu yang hebat, berdampak langsung, atau sesuatu yang besar. Sebuah pemikiran kecil dan sederhana bahkan bisa menjadi anak tangga pertama dalam mencapai suatu tujuan yang lebih besar kedepannya.

Saya mencoba menyentil topik yang masih hangat, yaitu pemilu. Bukan tentang pemilu Amerika Serikat yang menyedot perhatian seluruh umat sedunia, melainkan pemilu Indonesia yang akan diselenggarakan beberapa bulan kedepan.

Kampanye tertutup telah dimulai. Spanduk, baligho, poster, stiker, bahkan pin mulai gencar beredar di masyarakat, mempromosikan calon anggota legislatif agar dikenal orang banyak. Salah satu peran yang bisa mahasiswa ambil dari event ini adalah keikutsertaan dalam sosialisi pemilu serta edukasi masyarakat tentang pentingnya pengetahuan berpolitik, minimal lingkup kampus.. Namun, bukan itu yang ingin saya kritisi kali ini.

Ada sesuatu yang menggelitik pemikiran saya beberapa hari ini. Bila kita jeli, terdapat perbedaan yang cukup mencolok pada publikasi kampanye kali ini dibandingkan 5 tahun yang lalu. Gambar lubang dengan paku berubah menjadi tanda contreng. Ya, itu yang ingin saya kritisi. Kebijakan baru pada Pemilu 2009 mengenai tata cara pencoblosan. Terdengar seperti kurang penting, namun bagi saya ini penting dan ini menyangkut kepentingan banyak orang.

Pemilu 2009, yang menurut beberapa sumber akan dilaksanakan mulai tanggal 9 April, mengalami perubahan teknis dalam teknik pencoblosan, yaitu dengan pulpen (di contreng) dengan alasan untuk meminimalisasi anggaran dana APBN alias menghemat dana. Saya ingin menyumbang saran kepada KPU agar tata cara pencoblosan Pemilu 2009 tetap menggunakan paku sebagai alat untuk melubangi kertasa suara, bukan dicontreng.

Menurut saya, penggunaan pulpen kurang relevan dibandingkan dengan sistem lama. Ada beberapa alasan mengapa saya tidak setuju, diantaranya:

1. Sreeeeettt!!! Tiba-tiba kertas suara tercoret di bagian lain. Hal yang mungkin saja terjadi bukan? Terkadang, dalam kehidupan sehari-hari, menyobek saus sachet untuk mie instan saja masih suka belepotan, nah ini juga mungkin terjadi kan? Tidak menutup kemungkinan juga angka prevalensinya lebih tinggi daripada kasus saus sachet. Alhasil, suara menjadi tidak sah.
2. Adanya keiseng mencoret gambar partai atau caleg, menghias kertas suara, atau bahkan gambar partai yang tidak disukai di tulis dengan kata-kata makian.
3. Pencoblosan dengan paku lebih populer dikalangan masyarakat. Kita tahu, mulai dari pemilihan ketua RT sampai presiden (tahun 2004), semuanya menggunakan paku. Tidak menutup kemungkinan masyarakat masih tetap melubangi kertas suara atau mencontreng sekaligus melubangi. Padahal menurut Ketua Pokja Pemungutan Suara KPU Andi Nurpati, ”hanya tanda contreng yang dianggap sebagai tanda pemberi suara sah, sedangkan garis bawah, tanda lingkaran dan tanda silang dianggap tidak sah. Tanda centang yang tidak sempurna seperti tidak lurus dalam memberi tanda juga dianggap sah. Jika surat suara tersebut ditandai dengan tanda centang dan mencoblos secara bersamaan, tanda surat suara itu dianggap tidak sah.

Ada satu fakta yang ingin saya ajukan mengenai poin kedua. Bulan Oktober lalu, dikampus saya ada pemilihan ketua senat yang baru. Kebetulan saya menjadi anggota KPU. Kami menyediakan paku dan spons untuk mencoblos. Tapi memang dasar anak kuliahan selalu membawa pulpen kemana-mana, gambar calon malah dicoret-coret, disilang, bahkan ada yang menuliskan namanya sendiri lalu dicoblos (untuk yang makian tidak masuk kategori). Untung saja aturan sah tidaknya kertas suara tidak seketat pemilu nasional, kalau tidak, akan banyak suara yang dianggap tidak sah

Nah, mahasiswa dikampus saya sample-nya sekitar 1000 orang, dan orang-orang iseng ini ada sekitar 3-4%. Bagaimana bila presentase ini diterapkan ke masyarakat Indonesia yang bila jumlah pemilihnya sekitar 100 juta orang. 4 % dari 100 juta adalah angka yang cukup fantastis, apalagi kalau lebih. Akan banyak pihak yang dirugikan, seperti masyarakat yang kehilangan suaranya, partai politik, bahkan kinerja KPU yang dicap gagal. Ini belum termasuk orang-orang yang belum tahu aturan baru atau yang buta huruf. Jika dijumlahkan, angkanya pasti akan membengkak.

Dana KPU

Saya agak kecewa saat membaca koran beberapa waktu lalu. Di koran itu disebutkan adanya sisa kertas suara pada PEMILU 2004 lalu, yang disimpan di dalam gudang sebanyak 80.000 ton. Kertas-kertas tersebut (katanya) sudah mulai rusak dan harganya menjadi sangat jatuh bila dilelang. Banyak pihak yang disalahkan, terutama KPU. Seharusnya KPU melelang kertas tersebut setelah PEMILU 2004 lalu berakhir, bukannya malah ditumpuk. Akibatnya, negara dirugikan 2 kali. Pertama, harga kertas suara tersebut sangat jatuh. Kedua, pemerintah harus membayar sewa gudang tempat penyimpanan kertas suara tersebut. Kertas itu ringan, 80.000 ton pastinya sangat banyak. Saya tidak bisa membayangkan semahal dan sebesar apa gudang yang disewa oleh pemerintah, kan tidak lucu kalau kertas disimpan di tempat yang lembab.

Jika alasannya meminimalisir anggaran APBN, menurut saya, itu kurang bijaksana. Bisa jadi biaya akan semakin membengkak untuk sosialisasi aturan baru dan kemungkinan keberhasilannya juga masih diragukan. KPU dan pemerintah perlu meninjau kembali anggaran dana yang akan digunakan. Ini acara nasional dan milik seluruh rakyat. Mengapa tidak memangkas biaya-biaya dari sektor pemerintah yang lain, selain KPU, jika untuk menghemat dana?

Namun bila perubahan ini ditujukan agar Indonesia sederajat dengan negara-negara lain dalam pelaksanaaan pemilu, khususnya di Asia yang mayoritas meggunakan pulpen untuk mencontreng, pun kurang bijaksana. Mengapa tidak lebih fokus pada pendidikan politik kepada masyarakat? Masyarakat kita masih banyak yang apatis terhadap pemimpin yang akan ia pilih. Bahkan tersiar wacana, masih ada yang memilih pemimpin berdasarkan enak tidaknya dipandang mata, bukan kapabilitas yang ia miliki.

Kalaupun KPU ”keukeuh” menggunakan sistem baru ini, seharusnya ada sample dengan angka keberhasilan yang tinggi seperti di negara-negara maju. Namun, kita tidak bisa mengambil contoh dari negara maju karena adanya perbedaan kondisi masyarakat Indonesia. KPU bisa mengambil sample di daerah-daerah yang lebih random untuk melihat sejauh mana tingkat keberhasilannya. Sample yang digunakan jangan hanya 3 lokasi, kalau perlu diperbanyak agar objektivitas lebih baik. Dalam quick count saja terdapat sekitar 400 sample, setidaknya KPU dapat meninjau ulang kembali mekanisme pengambilan samplenya.

Mungkin saya sok tahu, tapi bukankah mahasiswa itu memang punya hak untuk melakukan kesalahan. Seperti yang sering dikatakan oleh dosen di kampus: ”Mahasiswa itu berhak melakukan kesalahan, maka lakukanlah kesalahan karena itu artinya kamu belajar. Kalau sudah menjadi dokter, kamu tidak boleh lagi melakukan kesalahan.”

Saya yakin, KPU memiliki pertimbangan yang lebih bijaksana. Semoga.

24 November 2008
Almahira Az Zahra
Mahasiswi tingkat II
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran
Tulisan ini diajukan untuk lomba menulis kritis stove-ex fkui

14 comments on “Antara Pemilu, Paku, dan Pulpen

  1. kinkinboy
    December 3, 2008

    salam kenal…

    pendidikan politik bagi pemilih..
    sosialisasi sampai tingkatan akar rumput
    pendidikan pemilu untuk pemilih pemula
    .
    .
    .
    niat pemerintah bagus tapi bagaimana menyikapi kondisi masyarakatnya…?

  2. Prita
    December 5, 2008

    alma… congratulation y sekali lagi… hehehehe…

    isinya bagus, ma… emang kamu banget lah idenya.

    kalau soal tulisannya sendiri, mungkin di beberapa tempat menurut saya si orang awam ini, ada yang masih harus dikoreksi seperti ejaan dan kesinambungan kalimat. gyahahaha…

    sudahlah, ini bukan pelajaran bahasa indonesia, kan?

    bagus, ma…! two thumbs up deh!

    komentar tentang isinya sendiri dr saya:

    pemilu? liat aja ntar saya pulang nggak. tergantung situasi deh. tapi sama sekali nggak pasti saya bakal nyoblos atau nggak. bikin ktp yogya ribet ah… hehehe… (bukan wn yang baik)

  3. Prita
    December 5, 2008

    eh, da teu nyoblos ketang… ralat yg atas pake “nyontreng”

  4. kang Ge
    December 6, 2008

    buat Almahira

    Kontennya sangat bagus, logikanya nyambung. Mungkin diksinya yang perlu terus diperkuat, dalam hal ini kita bisa meminjam terminologi teman-teman di Fisip, yang akan memperkuat tema tulisan tentang politik.

    selain itu, jika kita menulis opini, hindarilah pemilihan kata yang menunjukkkan keraguan kita. Misalnya di kalimat terakhir,…. “mungkin saya orang yang sok tau,… dst)

    terlepas dari itu semua, tulisanmu sangat baik.

    salam,

    Ge

  5. kang Ge
    December 7, 2008
  6. almahira
    December 7, 2008

    @kinkinboy
    salam kenal juga.. makasih udah berkunjung

    @prita
    baiklah, kita tidak sedang berada dalam sebuah kelas saat ini
    oia, kalo mau baca versi aslinya, klik:
    di sini
    (ngaco banget)

    @Kang Ge
    makasih feedbacknya kang..
    ini teh tulisan belum diedit sama sekali, jadi di maklum ya..

  7. alfapyuee
    December 9, 2008

    Halo Ma…

    Nice piece of u…

    Karena kamu menulis, bertambah rasa bangga saya jadi perempuan.
    Masalah pemilihan kata memang sesuatu yang harus dikembangkan…
    Kalau menurut saya, kerendahan hati kamu adalah hal yang baik, dan saya mengerti itu bukan tanda kamu ragu-ragu. Gaya penuturannya aja kok yang harus digali lagi…

    semangat ya…

  8. almahira
    December 10, 2008

    @alfapyuee

    yuppi…
    harus semangat!!
    klo engga, liat orang lain aja udah langsung jier teh, alma kan orangnya minderan.hehehe

    thanks buat kunjungannya..

  9. adiwena
    December 11, 2008

    Ikut komentar ya.. Tulisannya bagus. Terutama karena punya fokus. Personally, saya lebih suka tulisan yang sederhana tapi fokus, daripada tulisan yang mbombastis tapi isinya buram. Tapi, lagi-lagi menurut saya, gimana kalau ditambahin sub-bab satu lagi? Jadinya ada tulisan pengantar yang ada ‘promise to the reader’, terus ada bahasan pertama, bahasan kedua, dan penutup. Biar nggak terlalu numpuk begitu… Tapi ini IMO lho. Menulis dan melukis kan sama-sama pakai perasaan.

    Dan, untuk isi… ngga komentar ah. Udah panjang.

  10. almahira
    December 11, 2008

    @adiwena

    oke,,, makasih buat komennya..
    jadi semangat lagi nih..

  11. rasyid muflih malis
    December 27, 2008

    Assalamu’alaikum…
    pertama..maaf dulu ya ma..baru sempet baca…
    setidaknya gw telah melunasi janji untuk membaca “karya” terbaru lu..

    Komentar (sesuai permintaa):
    1. Judulnya memukau dan tidak berlebihan
    awalnya, waktu lu sms hari itu..gw pikir artikelnya tidak seperti ini…mmm, agak2 unpredictable
    2. Diksi nya, seperasaan gw, ada satu atau dua yang unik
    3. EYD nya…coba belajar lagi ah..kayaknya mah ada yg msh kurang tepat
    4. Emosi nya dapet…
    jadi intinya artikel ini telah berhasil mempengaruhi pikiran orang lain
    5. Idealisnya juga kena
    6. Gw suka kalimat terakhir yg berbunyi “Saya yakin, KPU memiliki pertimbangan yang lebih bijaksana. Semoga.”
    setidaknya, menurut gw, lu berhasil menjaga hati dari prasangka buruk…gud girl!

    udah ah segitu aja…
    maaf ya ma kalo gw sok tau..heheh
    padahal mah gw jg ga bisa bikin artikel kaya gitu
    ya..setidaknya dah terbuktikan bahwa karya lu oke.. udah menang dong..

    makasih undangannya untuk baca artikel ini
    lumayan…ngisih waktu liburan

    hebat,
    paku telah menancapkan pikiran orang dewasa ke tubuh kecilmu

    hebat,
    pulpen telah menuliskan kalimat lugas dari pikiranmu

    hebat,
    jangan takut berkeliaran di alam dewasa
    dan teruslah tersesat di sana

  12. almahira
    December 30, 2008

    @rasyid muflih

    makasih banget kang..
    aku suka quote-nya
    jangan takut berkeliaran di alam dewasa
    dan teruslah tersesat di sana

    hahahaha

  13. Rian Afriadi
    January 6, 2009

    Mengganti paku dengan pulpen itu justru harus dijadikan sebuah simbolisasi harapan ke depan agar rakyat Indonesia harus lebih dekat dengan pulpen. Harus diakui bahwa minat rakyat negeri ini yang berhubungan dengan pulpen amat kecil.

    (Plus, paku terkesan barbar dan tidak modern)

    Jika memang nanti terjadi keisengan di mana seseorang (atau banyak orang) mencorat-coret gambar yang lain, itu bukan masalah. Itu adalah haknya.

    Apa salahnya dengan mencorat-coret gambar caleg yang dibenci? Nanti pilihannya tidak akan dihitung? Semua orang bebas mengekspresikan apa yang ada di kepalanya di balik bilik suara, dengan segala konsekuensinya.

  14. almahira
    January 7, 2009

    @Rian Afriadi

    Thanks buat kunjungannya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 3, 2008 by in Opini and tagged , .
%d bloggers like this: