Never Ending Study

sebuah pembelajaran tiada henti

Dokter Harus Kenal JAMKESMAS


Tahu tidak apa itu JAMKESMAS?
Atau pernah dengar yang namanya ASKESKIN?

Bisa jadi sebagian diantara kita belum pernah mendengarnya sama sekali, apalagi tahu secara detil. Idealnya sebagai seorang calon dokter yang baik, kita harus mengerti atau minimal tahu JAMKESMAS. Karena tidak dapat dipungkiri, berhasil tidaknya program ini terkait dengan kepedulian seorang dokter.

Mengenal JAMKESMAS
JAMKESMAS atau Jaminan Kesehatan Masyarakat, merupakan sebuah program kesehatan dari pemerintah yang ditujukan bagi masyarakat sangat miskin, miskin, dan mendekati miskin di Indonesia. Sedangkan ASKESKIN merupakan program pemerintah sebelumnya yang kemudian diubah menjadi JAMKESMAS. Secara general tidak ada perbedaan antara JAMKESMAS dan ASKESKIN, hanya sistem administrasi dan pengelolaan dananya saja yang sedikit berbeda.

Pengelolaan dana hingga verifikasi pada ASKESKIN dipegang PT. ASKES. Nah, pada program JAMKESMAS, dana diberikan langsung dari Kas Negara ke pemberi pelayanan kesehatan (PPK), seperti Rumah Sakit, sehingga PPK dapat meminta klaim pembayaran langsung kepada pemerintah. Pun verifikasi dilakukan oleh tim verifikator independen yang diangkat oleh Dinas Kesehatan.

Undang-undang berbicara bahwa akses pelayanan kesehatan merupakan milik semua orang. Namun, biaya kesehatan cukup mahal, terutama bagi golongan keluarga miskin (gakin). Di Indonesia, jumlah gakin sendiri mencapai angka 76,4 juta jiwa. Sebuah angka yang cukup fantastis! Oleh karena itu, pemerintah membuat program kesehatan gratis untuk meningkatkan kualitas kesehatan bagi golongan ini, yaitu JAMKESMAS.

Paket Pelayanan
Satu hal yang unik dalam JAMKESMAS adalah adanya sistem paket pelayanan kesehatan, yang diklasifikasikan berdasarkan jenis penyakit. Pengklasifikasian ini diharapkan dapat meningkatkan kendali mutu dan kendali biaya dalam pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat miskin. Perlu ditekankan bahwa pelayanan kepada pasien gakin harus sesuai dengan paket yang tersedia, karena bila tidak sesuai, pemerintah tidak akan membayar biaya pelayanan tersebut kepada puskesmas/rumah sakit terkait.

Lalu pertanyaannya: ”Sejauh mana seorang dokter harus tahu tentang JAMKESMAS?”

Secara umum, tidak ada perbedaan pelayanan profesional medis kepada pasien gakin dengan pasien biasa atau utama, yakni mengacu pada standar pelayanan esensial. Pembedanya adalah tingkat kenyamanan karena pasien gakin mendapat perawatan kelas tiga. Selain itu, pasien JAMKESMAS tidak berhak memilih karena segala tindakan pelayanan harus sesuai dengan petunjuk pelaksanaan yang ada, termasuk obat yang diberikan (terdapat apotek khusus JAMKESMAS).

Peran Serta Dokter
Seperti telah diuraikan sebelumnya, pelayanan kepada pasien JAMKESMAS harus sesuai dengan paket yang tersedia. Nah, disinilah pentingnya peran seorang dokter. Setiap dokter harus berhati-hati dalam membuat diagnosis, supaya jangan sampai ada tindakan yang tidak perlu dilakukan. Tak hanya itu, dokter juga harus menuliskan hasil diagnosanya di form yang tersedia dengan kode-kode tertentu. Kode yang digunakan adalah ICD-10, yaitu suatu kode dalam sistem klasifikasi statistik internasional mengenai penyakit dan masalah kesehatan.

Apa yang akan terjadi bila seorang dokter (khususnya di Rumah Sakit) tidak aware dan masa bodoh dengan program kesehatan dari pemerintah ini?

Penulis mengambil contoh Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), yaitu rumah sakit pendidikan FK Unpad. Jumlah pasien JAMKESMAS di RSHS mencapai 70%-80% dari total pasien yang masuk setiap harinya. Beberapa bulan yang lalu, RSHS mengeluarkan biaya sekitar 31 miliar untuk pelayanan kesehatan gakin. Dari total biaya tersebut, pemerintah hanya membayar 23 miliar saja. Hal ini terjadi karena ketidaklengkapan administrasi ataupun status. Misalnya ketidaksesuaian alamat pada status dengan kartu JAMKESMAS, kurangnya data pasien, hingga kelalaian dokter dalam mengisi status atau sekedar membubuhkan tanda tangan.

Rumah Sakit tentunya memiliki kebijaksanaan sendiri dalam mengatur hal-hal tersebut agar fungsinya sebagai PPK tetap berlangsung. Misalnya mencari pendanaan lain untuk menutupi defisit yang ada dan memperbaiki sistem administrasi. Namun yang perlu ditekankan disini adalah peran dokter, sebagai penyukses program pemerintah, khususnya dalam bidang kesehatan, agar lebih membuka mata dan peduli terhadap keberhasilan JAMKESMAS.

November 2008
Almahira Az Zahra
Artikel Untuk Medicinus

6 comments on “Dokter Harus Kenal JAMKESMAS

  1. adiwena
    December 21, 2008

    “Dok, katanya obat ini susah ya nyarinya?”
    “Ah, ngga juga sih. Kata siapa?”
    “Itu, ibu-ibu yang di apotek”
    “Oh… klo pake Askes sih emang susah”

    Dan, saya pun terdiam.

  2. almahira
    December 22, 2008

    @adiwena

    kalau pake JAMKESMAS/ASKESKIN, memang ada daftar obat standar yang diberikan. kalau mau obat yang lebih mahal, harus bayar sendiri. kalau mau gratis, ya ada alurnya sendiri. (yang saya tangkap si\uh begitu)

  3. yudi
    December 28, 2008

    knp sih orang melakukan yang kotor

  4. almahira
    December 30, 2008

    @yudi

    maksudnya melakukan yang kotor?

  5. adiwena
    January 7, 2009

    ohhh… begitu. Walah, mau sehat itu repot juga ya.

    Kemarin saya lihat di jalan Palasari ada orang tua sedang narik geroba kuning. Tangannya bergetar kencang, mungkin terlalu kencang, sampai dia tidak bisa menggenggam handle gerobaknya. Ia ikatkan tali ke bahu yang isinya tulang semua untuk menarik gerobak itu, perlahan…

    Ibu saya bilang, itu mungkin parkinson. Saya nggak tahu, waktu saya bilang dia mungkin kesurupan… ibu saya bilang jangan kurang ajar.

    Mungkin dia nggak tahu soal askeskin. Atau, prosedurnya terlalu repot dan memakan waktu… padahal dia harus menarik gerobak kuning.

    Sehat itu harus susah ya?

    Saya juga demikian… kata teman-teman untuk sehat harus olahraga, jaga pola makan, jangan kebanyakan kopi lagi kalau nggak mau maagnya kambuh, dll

    sehat itu harus susah ya?
    *kalo yang terakhir mah wajar kali wir..

  6. yani
    November 9, 2010

    sehat itu mahal lg.. mkax lahir opini org kya ajah yg bs beli kesehatan.. wong cilik jd penonton ajah..
    tp kta jgn berkecil hti..
    jamkesmas it spt cahya dlm terangx malamkan???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 20, 2008 by in Uncategorized and tagged , , .
%d bloggers like this: