Never Ending Study

sebuah pembelajaran tiada henti

Apa Impianmu?


Tuliskan semua impianmu! Apa saja, tak kurang dari seratus!

Itu adalah ucapan dari kakak mentorku saat mentoring mingguan di kampus. Kupikir, ada bagusnya juga. Harus kuakui selama menjadi mahasiswa, aku belajar menjadi orang yang lebih teratur dan lebih fokus pada apa yang ada di depan mata sekarang. Banyak hal di masa kecil yang seringkali terlupakan karena kesibukan sebagai mahasiswa. Salah satunya adalah mimpi tentang menjadi apa di masa depan. 

Impian, harapan, asa, cita, bahkan mimpi membuat hidup manusia menjadi lebih berharga. Itu yang kupelajari dari berbagai macam literatur. Sebelumnya, aku tak berniat tuk menuliskan hal-hal yang kuimpikan. Seperti buang-buang waktu dan kurang kerjaan. Tapi pada akhirnya, tulisan-tulisan itu menjadi sumber kekuatan bagiku. Kekuatan tuk terus maju dan pantang menyerah. Kekuatan tuk terus berkarya dan usaha tuk mewujudkannya menjadi nyata.

Ketika berusia 4 tahun, aku memiliki urutan cita-cita yang cukup berpengaruh dalam kehidupanku selanjutnya. Meskipun aneh, urutan cita-cita ini menentukan pilihan apa yang ingin kuambil saat kuliah: astronot, dokter, guru, ibu rumah tangga.

Melalui tulisan ini, aku ingin berbagi sedikit mengenai beberapa hal yang kuharapkan terjadi dalam hidupku. Entah menjadi bagian dari sebuah komunitas, berharap mengunjungi suatu tempat, menginginkan sebuah peran, bahkan berkhayal berada di dalam negeri dongeng. Mulai dari yang mustahil hingga benar-benar mungkin tuk diwujudkan. Siapapun yang membaca tulisan ini, harus ikut mencobanya!

Inilah impianku..

Bisa terbang

Ini mimpiku sejak SD. Aku ingin bisa terbang dan kan kugunakan kemampuan ini tuk berkeliling di malam hari. Menikmati indahnya lagit dan suasana di malam hari, memperhatikan kegiatan orang-orang, atau sekedar berkunjung ke rumah kerabat. Apalagi setelah membaca cerita Goosebumps yang berjudul Ramuan Ajaib, keinginanku ini semakin menggebu-gebu. Tapi, jangankan impian terbang menjadi nyata, naik pesawat terbang pun aku belum pernah. Hiks..

Pergi ke luar angkasa

Aku ingin jadi astronot di masa depan dan melihat banyak hal yang tidak kutemui di bumi. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya memakai pakaian astronot, melayang-layang di luar angkasa, dan mengetahui bagaimana gelapnya jagat raya. Sayang, tak sampai dua tahun, impian urutan pertama ini langsung ku kubur setelah tahu bahwa menjadi astronot peluangnya terlalu kecil.

Jadi pembawa acara discovery channel

Artinya bisa berkeliling dunia dan mengamati banyak hal di alam. Berpetualang dari satu hutan ke hutan lain, menyusuri garis pantai, mempelajari berbagai jenis flora dan fauna diseluruh dunia.

Jadi guru TK

Anak-anak itu lucu. Tepatnya tidak tahu apa-apa. Maksudku, bagaimana karakter mereka di masa depan ditentukan oleh orang-orang disekitarnya saat usia kanak-kanak. Aku ingin sekali menjadi guru TK, mendidik anak-anak bagaimana menghargai orangtua, menjadi teman yang baik, bekerja sama dalam tim, dan yang lebih penting membuat mereka tahu bagaimana menjadi diri sendiri. 

Jadi pendongeng yang seru!

Walaupun bukan seorang profesional, setidaknya aku pernah mendongengkan kisah kucing kepada adikku saat ia berusia 4 tahun. Kalau orang dewasa yang mendengarnya, pasti dianggap aneh dan sangat membosankan. Lain halnya dengan anak kecil yang selalu penasaran dan belum mengenal apa itu aneh atau bukan. Bagi mereka yang penting menarik. Makanya, aku ingin sekali menjadi seorang pendongeng yang seru untuk anak-anak.

Jadi Gretel di cerita Hans and Gretel (tentu tanpa ada sang penyihir)

Karena aku suka sekali coklat. Pasti menyenangkan kalau aku bisa makan coklat setiap hari dan memandangnya dalam bentuk yang bagus: rumah coklat. Dalam dongeng Hans and Gretel, rumahnya terdiri dari coklat dan permen. Berhubung aku lebih suka coklat, aku tidak keberatan berbagi permen pada orang yang menginginkannya.

Jadi anak kecil selamanya

Terinspirasi dari kisah Peter Pan dari Neverland dan buku The Little Prince karya Antoine de Saint Exupéry. Kata teman sekostan, ada bagian dimana menjadi anak kecil itu menyedihkan. Ia hanya tahu bermain, tidak tahu banyak hal di dunia ini, apalagi mencari penyelesaian masalah secara mandiri. Temanku itu ada benarnya juga, tapi menurutku, menjadi anak kecil adalah pilihan. Bukan tuk melarikan diri dari kenyataan, melainkan tuk menjadi diri sendiri. Sehingga, jiwa anak-anak itu sangat penting untuk dipertahankan hingga kita dewasa.

Punya Sahabat

Sahabat adalah pencuri kebiasaan.

Sahabat adalah orang yang paling seru diajak makan eskrim.

Sahabat bukan orang yang kemana-mana harus bareng.

Sahabat bukan orang yang membenarkan semua tindakanmu.

Sahabat bukan orang yang harus selalu ada disampingmu.

Sahabat adalah orang yang mendukung dan memberimu kekuatan baru tuk menatap dunia.

Setidaknya, itu yang kupahami akan makna persahabatan.

Jadi penulis

Penulis itu beda lho dengan pengarang. Setidaknya itu yang aku yakini. Diluar negeri, penulis itu merupakan sebuah profesi utama dan aku pikir sepertinya itu menarik. Menjadi penulis dengan latar belakang pendidikan kesehatan adalah satu bentuk pengabdian untuk mencerdaskan masyarakat. Dengan sebuah tulisan dan tanpa harus banyak bicara,  seseorang bisa mengedukasi beribu-ribu orang dalam waktu yang bersamaan.

Aku yakin, impian menjadi penulis bukan sesuatu yang mustahil. Usahaku untuk menulis memang belum serajin teman-teman yang lain, tapi paling tidak aku sudah berusaha untuk menulis.

Jago gambar

Sayang, aku tidak memiliki bakat dalam menggambar. Kadang, aku sedih karena tidak bisa menginterpretasikan imajinasi warna dalam kepalaku. Kadang kesal juga karena masuk kepanitiaan publikasi atau dekorasi hanya untuk mengorganisir dan bantu-bantu saja tanpa memikirkan konsep.

 

Jadi tukang listrik

Ini karena ayahku seorang teknisi. Semua hal yang berkaitan dengan perlistrikan di rumah dikerjakan oleh beliau, dan menurutku itu keren! Meski impian menjadi insinyur elektro tidak kesampaian, aku cukup puas karena pernah ikut mengotak-atik kabel PLN di langit-langit rumah.

Jadi relawan di tempat pengungsian

Aku ingin membantu para pengungsi sebisaku. Aku ingin kualitas hidup mereka menjadi lebih baik, mengajarkan pada mereka kemampuan apa saja yang bisa mereka kembangkan, memberi bantuan kemanusiaan, mendengar aspirasi mereka, membuat mereka lebih positif dalam menata masa depan, memberi pendidikan pada anak-anak mereka, menjaga stabilitas emosi, psikologis, dan hak-hak anak di sana, dan tentunya meningkatkan kesehatan mereka.

Aktif di LSM untuk anak dan perempuan

Bukan. Bukan karena aku perempuan. Hanya saja setelah kupelajari, ternyata banyak masalah di masyarakat terkait dengan anak atau perempuan. Lagipula, kalau kita menilik permasalahan bangsa ini, kuncinya adalah anak dan perempuan (ibu). Jika Indonesia ingin maju, maka majukanlah dari lapisan masyarakat yang paling dasar: keluarga. Keluarga akan membina generasi selanjutnya dan itu terkait dengan kemampuan orangtua, khususnya ibu, dalam mendidik anaknya.

Ahli ekonomi syariah

Ini salah satu alasan kenapa aku seneng banget dengar cerita sepupuku yang bekerja di BMT (Baitul mal wa Tamwil) dan kakak kelasku di fakultas ekonomi mengenai ekonomi syariah. Bukan karena itu yang disyariatkan oleh agamaku, melainkan kondisinya yang tetap stabil ketika krisis moneter tahun 1998 yang menarik perhatianku. Ekonomi syariah juga merupakan solusi tepat bagi usaha mikro bagi masyarakat kecil. Sayang, aku tidak tertarik kuliah di ekonomi.

Jadi ahli dibidang teknologi pangan

Penduduk dunia semakin hari semakin bertambah banyak, namun ini semua tidak dibarengi dengan ketersediaan pangan yang cukup. Tugas seorang ahli teknologi panganlah untuk mencari dan menciptakan inovasi baru dalam penemuan sumber pangan. Tugas yang sangat keren bukan?

Jadi ahli gizi

Tak perlu semua hal tentang gizi kupahami bukan? Minimal, dengan menjadi konsultan gizi bagi keluargaku sendiri itu sudah lebih dari cukup.

Kuliah di kedokteran

Agak aneh, aku tidak punya tujuan lain selain menjadi dokter setelah astronot. Banyak hal yang menarik minatku, seperti menjadi insinyur pertanian, akuntan, pengusaha, ahli pangan, psikolog hingga ahli komputer, tetapi aku hanya ingin belajar menjadi dokter. Berlebihan sih, tapi keyakinan bahwa aku ingin menjadi dokter ini tak pernah kuabaikan. Banyak orang bilang bahwa masuk kedokteran itu membutuhkan dana beratus-ratus juta dan itu cukup membuatku jiper. Kenyataannya, aku tak perlu membayar mahal seperti kata orang. Ini membuatku semakin yakin, keadaan seperti apapun kita, kalau tekad dan keyakinan ada, semua hal yang kita impikan bisa terwujud. (doakan lulus tepat waktu ya!)

PTT di Kalimantan

Kata orang, PTT itu singkatan dari pegawai tidak tetap. Kata orang juga, sebelum era reformasi, PTT di daerah terpencil itu wajib untuk dokter yang baru lulus. Walaupun tidak ada kewajiban lagi bagi dokter baru untuk PTT sekarang, aku tetap ingin memiliki pengalaman seperti cerita orang-orang dulu.

Awalnya, aku bercita-cita tuk ambil PTT di Papua, tetapi setelah kuliah di kedokteran, lokasinya berubah menjadi Kalimantan, tepatnya Kalimantan Barat. Ibuku orang Sunda, sedangkan ayah orang Melayu. Karena tinggal di Jawa Barat, seluruh keluarga dari pihak ibu ku kenal satu persatu. Sayangnya, hanya sebagian kecil dari keluarga ayah yang ku kenal, itu pun karena mereka datang ke rumah. Kalau aku berhasil PTT di Kalimantan, aku berencana untuk mengenal saudara-saudaraku dari pihak ayah. Jadi, sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui; mendapat pengalaman, mengabdi pada masyarakat, dan mengenal keluarga. (semoga impian ini menjadi nyata)

Setelah kau tulis semuanya, barulah dipilah. Mana yang lebih prioritas dan bisa kau capai. Kemudian, fokus pada hal itu.

Itu kalimat penutup dari teteh mentorku. Karena pada akhirnya, kita harus memilih, mana impian yang bisa terwujud dan mana yang tidak. Meski kedengarannya menyedihkan, kita tak mungkin mewujudkan semua hal yang kita inginkan.

Menjadi mahasiswa artinya belajar untuk fokus akan menjadi apa kita nanti. Jujur, agak membingungkan bagiku. Motivasi menolong orang, tanpa membuat daftar yang spesifik membuatku sulit mengetahui apa yang sebenarnya akan kulakukan nantinya. Apalagi, hal yang ingin kuraih akan sulit terwujud karena aku mempelajari hal berbeda dengan apa yang kucitakan. Tetapi dengan menuliskan semua impian, aku seperti memiliki sebuah peta. Sehingga aku bisa mencari tahu kira-kira di bagian mana aku bisa berkontribusi tanpa harus menjadi ahli di bidang tersebut.

Tidak semua hal yang kita impikan akan menjadi nyata. Tapi tetap, memiliki banyak impian itu penting. Kita tak pernah tahu, impian besar atau impian kecil yang akan merubah hidup kita di masa depan. Jadi, jangan pernah takut tuk bermimpi.

”Apa impianmu?”

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 23, 2009 by in Cita-Cita.
%d bloggers like this: