Never Ending Study

sebuah pembelajaran tiada henti

Swine Flu: Teror Baru Dunia Kesehatan


 

Dunia dikagetkan oleh teror virus baru. Setelah sebelumnya virus H5N1 atau avian flu melanda sejumlah negara, termasuk Indonesia, kini virus swine flu mulai menghantui dunia Internasional.

 

Swine flu atau flu babi, adalah penyakit saluran pernafasan pada babi yang disebabkan oleh virus Influenza tipe A. Virus ini biasa menjangkiti babi sepanjang tahun, khususnya saat pergantian musim gugur ke musim dingin.

Beragam pendapat muncul mengenai keberadaan virus ini. Pada awal pandemi disebutkan bahwa virus ditularkan melalui hewan babi. Namun setelah beberapa waktu, inspeksi di peternakan-peternakan babi yang dilakukan di Meksiko dan AS tidak menemukan tanda-tanda virus tersebut pada binatang ini.

Sebelumnya Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) yang bermarkas di Paris, Prancis juga telah menyatakan bahwa penggunaan istilah flu babi adalah keliru. Virus strain baru ini memiliki gabungan komponen virus flu manusia, unggas dan babi. Sejak tanggal 1 Mei 2009, Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mengganti istilah swine flu atau flu babi menjadi flu H1N1.

Proses Penyebaran

Virus flu H1N1 yang kini mewabah bermula dari Meksiko dan kemudian menyebar ke sejumlah negara, seperti AS, Kanada, Selandia Baru, Spanyol, Israel, Inggris, Australia, Brazil, Perancis, Chili, Denmark, Swiss, Austria, Kolombia, Jerman, Norwegia, Korea Selatan, dan Guatemala.

Seperti umumnya virus influenza, jalur masuk utama penyebaran virus adalah sistem pernapasan. Ini bisa terjadi jika orang yang mengidap virus mengalami batuk atau bersin, sehingga virus tersebut dapat berada di udara dan menular pada orang sehat.

Secara teoritis, virus flu pada babi tidak menular pada manusia. Namun, yang perlu diingat adalah babi bisa terinfeksi virus avian influenza H5N1 (flu burung) dan virus influenza musiman atau virus influenza yang biasa menyerang manusia. Bahkan babi juga bisa terinfeksi oleh lebih dari satu tipe virus dalam satu waktu.

Kondisi yang demikian memungkinkan virus-virus tersebut saling bercampur dan memunculkan strain virus baru dari beberapa sumber (reassortant virus). Hal ini membuat virus flu pada babi, yang normalnya spesifik dan hanya menginfeksi babi, kadang bisa menembus batas spesies dan menular pada manusia.

Gejala

Orang yang terkena serangan virus H1N1 mengalami gejala-gejala seperti influenza pada umumnya, yaitu demam lebih dari 37.8 °C, batuk, pilek, sakit tenggorokan, sakit kepala, lemas, lesu, dan menggigil. Pada penderita H1N1 juga dilaporkan pasien mengalami diare dan muntah. Pada kondisi yang parah, pasien bisa mengalami pneumonia, kegagalan pernapasan, bahkan kematian.

Terdapat empat jenis obat antiviral yang digunakan untuk kasus influenza: amantadine, rimantadine, oseltamivir, dan zanamivir. Obat yang direkomendasikan untuk pengobatan dan pencegahan virus H1N1 adalah oseltamivir atau zanamivir, mengingat pada manusia virus H1N1 resisten terhadap penggunaan amantadine dan rimantadine.

H1N1 vs H5N1

Virus flu burung (H5N1) jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan virus H1N1. Ini terlihat dari presentase jumlah kematian korban. Angka kematian pada penderita virus H1N1 adalah 6%, sedangkan H5N1 mencapai angka 80% kematian.

Meski angka kematian pasien tidak setinggi virus H5N1, penyebaran terjadi lebih cepat karena virus H1N1 menular antarmanusia. Kondisi inilah yang membuat Badan Kesehatan Dunia (WHO) kalang kabut.

Hal ini terlihat dari status siaga yang dikeluarkan oleh WHO. Pada kasus virus H5N1, WHO menetapkan fase ketiga siaga pandemi, yaitu keadaan dimana virus hewan atau hewan-manusia menyebar sporadis atau berkelompok, tapi tidak mudah menular. Sedangkan pada virus H1N1, WHO memperingatkan wabah ini bakal terus mengganas menjadi pandemi. Pandemi terjadi ketika virus menyebar dalam komunitas terbatas di sedikitnya dua negara atau bahkan mulai menyebar ke negara-negara lain.

Pemerintah Sigap

Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap penyebaran virus H1N1 karena kecil kemungkinan Indonesia terjangkiti. Hal ini dikarenakan Indonesia termasuk negara tropis sedangkan virus H1N1 hanya hidup di daerah dingin yang memiliki empat musim.

Namun, bukan berarti pemerintah tidak waspada dan tanggap terhadap kondisi ini. Beberapa rumah sakit di kota besar telah dipersiapkan sebagai tempat rujukan bagi penanganan pasien suspect H1N1. Selain itu, terdapat pula pendistribusian obat antiviraloseltamivir (Tamiflu) dan alat perlindungan personal (APP) ke seluruh provinsi untuk dibagikan ke tempat pelayanan kesehatan.

Tak hanya sampai disitu, pemerintah juga mengeluarkan travel warning agar warga Indonesia tidak berkunjung ke negara Meksiko dan travel advisory supaya tak melancong ke negara yang terdapat kasus H1N1.

Pencegahan

Kita tidak tahu sampai kapan pandemi virus H1N1 akan terus berlangsung. Apakah wabah ini akan berakhir seiring dengan pergantian musim atau bahkan menetap selama beberapa waktu.

Apapun kondisinya, hingga saat ini yang bisa kita lakukan adalah tindakan pencegahan. Hal pertama yaitu dengan mengenali gejala-gejala yang timbul sehingga dapat dilakukan tindakan pengobatan dengan segera. Mencuci tangan merupakan tindakan paling sederhana dan paling penting untuk melindungi diri dari serangan bakteri atau virus.

(tulisan di Medicinus Edisi Mei-Juni-belum diedit editor. ^^’)

2 comments on “Swine Flu: Teror Baru Dunia Kesehatan

  1. destri
    January 23, 2010

    never ending study, beibeh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 26, 2009 by in MEDICINUS.
%d bloggers like this: