Never Ending Study

sebuah pembelajaran tiada henti

PR UKM yang Belum Selesai


“Medicinus: Sebuah UKM yang minim kualitas dan kuantitas.”

Itu kata-kata salah seorang adik kelas saya.

Yap. Kondisinya memang seperti itu. Satu-satunya hal yang masih tersisa dari kami adalah semangat anggota. Kalau semangat itu runtuh saya yakin akan ada semangat-semangat baru yang nantinya akan muncul. Akan tetapi, tak mungkin kami menunggu semangat-semangat baru muncul untuk memajukan yang (katanya) hampir mati.

Bahkan ada istilah yang lebih parah: UKM yang nyaris bubar. (ini bukan kata saya lho!)

Awalnya saya punya banyak mimpi untuk UKM ini. Mimpi yang banyak sejak saya memutuskan untuk terjun didalamnya. Salah satu impian terbesar saya adalah banyaknya mahasiswa yang berminat tinggi dalam kepenulisan, terutama untuk tulisan ilmiah populer. Saya ingin mahasiswa FK Unpad ketika telah lulus menjadi dokter memiliki kemampuan menulis dengan baik sehingga dapat menjadikannya sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat.

Info kesehatan, meskipun berulang kali disebutkan, akan tetap dicari dan dibaca banyak orang. Sayangnya dimedia massa, penulis kolom kesehatan tidak semuanya berasal dari latar belakang pendidikan kesehatan. Kemungkinannya ada tiga: informasi benar, salah persepsi, atau kurang dalam. Meskipun sekarang dokter hanya perlu menulis dan tidak perlu mengedit, tetapi kemampuan untuk dapat menulis sebuah artikel kesehatan dengan baik selayaknya dimiliki oleh  seorang dokter.

Bagi saya, kemampuan menulis hampir sama dengan kemampuan berbicara didepan umum. Ini terpikirkan ketika saya mengikuti orientasi dan pelatihan program radio di LSM yang saya ikuti. Salah seorang teman berkata kalau saya nanti didaerah, pasti sangat berguna kalau misalnya mau mengisi acara diradio. Sebenarnya berbicara dan menulis tentang kesehatan intinya sama, yaitu jembatan komunikasi penyampaian informasi kesehatan kepada masyarakat. Terdengar mudah bukan? Tapi percayalah, itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Masyarakat yang nantinya akan kita hadapi nanti berasal dari berbagai latar belakang pendidikan, sosial, ekonomi, dan budaya yang berbeda. Otomatis sebagai seorang dokter, penyampaian informasi pun harus menggunakan bahasa populer yang memang digunakan secara umum oleh masyarakat. Walaupun sekarang informasi kesehatan bisa diakses melalui internet, tidak semua orang menggunakan akses tersebut untuk mencari info kesehatan.

Penghasilan dari menulis memang tidak seberapa, tetapi melalui tulisan kita bisa mengedukasi ribuan pembaca dalam satu waktu tanpa harus menjelaskan banyak hal sampai mulut berbusa. Rasio efeknya pun tak bisa dikatakan kecil dibandingkan dengan praktek klinik. Jika rata-rata seorang dokter memberikan pelayanan kepada 40 pasien/hari, maka hanya 40 orang yang teredukasi pada hari tersebut. Itu pun tidak mendalam karena keterbatasan waktu tatap muka. Bandingkan dengan sebuah tulisan. Hanya dengan menulis beberapa jam, orang yang membaca bisa mencapai 5000 dihari yang sama. Edukasinya pun lebih mendalam. Kabar baiknya, tulisan tersebut bisa disimpan dan dibaca kembali jika suatu saat nanti dibutuhkan.

Saya yakin, hampir diseluruh Universitas memiliki Badan Pers Mahasiswa. Salah satu fungsinya untuk menyalurkan minat mahasiswa dalam bidang jurnalistik. Tak hanya itu, bagian terpenting adalah menjadi sosok yang peka dan kritis terhadap lingkungannya sehingga dapat menyajikan tulisan yang memiliki bobot manfaat yang tinggi kepada sasaran pembaca. Dalam pelaksanaannya, diperlukan kemampuan teknis yang wajib dimiliki anggotanya, minimal kemampuan dalam menulis.

Di FK Unpad, terdapat beberapa media kampus. Hampir setiap elemen memiliki buletin masing-masing yang isinya tentang promosi dan kegiatan dari UKM tersebut. Ada pula UKM yang bergerak dibidang jurnalistik, yaitu Medicinus. Ranah pembahasannya pun berbeda. Sedikit tentang Medicinus: terbit setiap dua bulan satu kali, isinya tentang kehidupan di FK Unpad.

Saya ingin melakukan banyak hal di Medicinus bersama teman-teman yang lainnya. Semangat saya muncul ketika melihat orang lain bersemangat, begitupun sebaliknya.

Saya dan Medicinus

Ini cukup menyakitkan, tapi ini memang harus dituliskan…

Bagi saya, kegagalan terbesar Medicinus adalah kegagalan regenerasi. Sekarang sedang expo dan semuanya bingung karena “seolah” dilepas begitu saja untuk membuat satu edisi majalah tanpa persiapan yang berarti. Disatu sisi, ini dapat menjadi pembelajaran yang baik dimana masing-masing dari anggota harus mencari tahu sendiri tentang bagaimana menulis tulisan, me-layout, dan lain-lain dalam pembuatan majalah. Kedengarannya memang bagus, tapi ini sebenarnya tidak boleh terjadi karena idealnya masing-masing dari anggota telah mengetahui minimal kompetensi dasar dalam menulis dan membuat sebuah media. Saya sebagai anggota merasa sangat gagal dan bersalah. Rasanya alasan tidak semangat karena melihat orang lain tidak semangat bukan alasan yang keren untuk menghindar dari tanggung jawab. Tapi memang itu sebenarnya yang terjadi dalam diri saya selama satu tahun ini. Saya tidak benar-benar merasakan semangat yang membara untuk memajukan UKM ini, minimal meningkatkan kompetensi anggotanya.

Ah, akhirnya tulisan ini hanya menjadi sebuah sampah tak berarti jika pada akhirnya tak ada pemaknaan, dianggap sebagai angin lalu, atau bahkan sebuah tindakan pengecut karena berkeluh kesah melalui tulisan.

Bagi saya pribadi, tak masalah bila sebuah tulisan terlihat biasa saja, kurang berbobot, atau terasa kurang update. Hal terpenting adalah keinginan untuk terus maju dan mengalami peningkatan kualitas seiring dengan berjalannya waktu. Karena sasaran pembaca dimasa depan nanti bukanlah kalangan mahasiswa lagi.

Untuk teman-teman Medicinus! (Kalau ada yang baca)

Jangan menyerah kawan…

Jangan pernah patah arang…

Jangan pernah lagi berkata bingung atau tidak semangat karena itu akan mematikan semangat teman kita yang lain…

Kalau dirasa ada yang kurang, mari ciptakan banyak hal dan kegiatan untuk menutup kekurangan tersebut. Mengeluh bukan tindakan yang baik sebelum kita berusaha sama sekali. Lagipula, kehidupan kita adanya dimasa depan nanti, bukan pada masa lalu yang fungsi selayaknya hanya sebuah pembelajaran.

Jangan pernah katakan lagi Medicinus UKM yang nyaris mati.

Jangan pernah katakan lagi hal-hal menyakitkan yang bisa membuat kita patah arang.

Ayo luruskan niat!!!

Ayo SEMANGAT!

Ayo SEMANGAT!!

Ayo SEMANGAT!!!

Untuk MEDICINUS yang Kritis, Kreatif, Kontemplatif..

Karena kita adalah calon-calon penulis besar 5 tahun mendatang.

*Desember, 18 2009 pukul 01.30

Maaf untuk kata-kata yang kurang berkenan, tidak sinkron (karena belum masuk proses editing), dan jatuhnya curcol…

Maaf juga karena saya posting di blog.

3 comments on “PR UKM yang Belum Selesai

  1. Alin aun
    December 24, 2009

    Ayo semangat! semangat!! Gue juga,.. sebagai calon tenaga kesehatan juga punya mimpi yang besar banget di tulisan. ^^. Iya,.. Kita adalah penulis-penulis besar 5 tahun mendatang.

    • mylearningissue
      December 24, 2009

      Iya,,,
      Karena kita calon penulis hebat yang akan membangun perabadan kesehatan Indonesia dimasa depan,

      Semangat juga, alin…
      Thnx for comment. sangat-sangat memberi semangat.🙂

  2. angghearachmiawaty
    January 2, 2010

    Almaaaaaa😉
    hihihiihiii, ntar abis ghea ujian, kita kumpul (dengan yang masih bertahan juga), kita ketemu dr. astrid m dr. ery yak…

    satu lagi, alma ( dan yang masih bertahan ) adalah harapan buat Medi, selalu ada untuk medi yak, karena kalo kita gak ada, medi juga ga ada…

    yang saat ini -percaya deh- gak lebih buruk dari yang sebelumnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 17, 2009 by in MEDICINUS.
%d bloggers like this: