Never Ending Study

sebuah pembelajaran tiada henti

Genting! Pendidikan Kesehatan Reproduksi


Jumlah remaja Indonesia telah mencapai angka 62 juta. Artinya, seperempat penduduk Indonesia adalah remaja, yaitu orang yang berada pada rentang usia antara 10-24 tahun. Jika 30% diantara mereka adalah siswa SMA, artinya dalam 7 tahun kedepan akan ada 20 juta manusia dewasa Indonesia yang idealnya berada pada usia dewasa dan produktif. Sehingga boleh dikatakan bahwa masa remaja merupakan masa yang cukup penting dalam pembentukan generasi dan kepemimpinan bangsa.

Masa remaja adalah masa yang menyenangkan, meski bukan berarti tanpa masalah. Banyak proses yang harus dilalui seseorang dimasa transisi kanak-kanak menjadi dewasa ini. Tantangan yang dihadapi orangtua dalam menangangi remaja pun akan semakin kompleks. Namun setidaknya, selalu ada jalan penyelesaina masalah untuk membentuk manusia-manusia kreatif dengan karakter yang kuat, salah satunya dengan pendidikan. Dalam esai ini saya akan mengutarakan pendapat mengenai permasalahan remaja dari segi kesehatan reproduksi dan pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi bagi anak usia sekolah, khususnya sekolah menengah.

Seks dikalangan remaja kini sudah menjadi rahasia umum. Faktanya, 15% remaja Indonesia telah melakukan hubungan seks sebelum menikah (sumber lain menyatakan lebih dari 63%!). Kebanyakan dilakukan bersama pacar atau teman. Ada beragam alasan yang menjerumuskan remaja kedalam hubungan seks pranikah. Selain rasa penasaran atau suka sama suka, hal yang paling penting adalah kurangnya pemahaman remaja terhadap isu seksual. Mengapa dikatakan kurang? Remaja Indonesia masih minim mendapatkan pengetahuan tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi, karena untuk penyampaian informasi mengenai hal itu masih dianggap tabu. Selain itu, lebih dari 80% remaja merasa lebih nyaman membicarakan masalah seksual dengan teman. Sehingga tidak menutup kemungkinan informasi yang mereka terima masih simpang siur. Padahal jika mereka tahu resiko dari berhubungan seksual pranikah, angka-angka tersebut seharusnya bisa lebih ditekan.

Perilaku seksual pranikah dikalangan remaja tak sebatas berdampak pada kesehatan remaja itu sendiri, aspek lain juga ikut terlibat. Peran agama pun dipertanyakan, mengingat 88% warga Indonesia adalah muslim yang jelas-jelas mengharamkan hubungan pranikah (zina). Tingginya perilaku ini pun menandakan semakin terkikisnya moral dan nilai dikalangan remaja.

Ada begitu banyak resiko yang bisa timbul dari perilaku seksual remaja. Memang perasaan bersalah biasanya menghinggapi para pelaku, tetapi resiko kesehatan yang mereka terima jauh lebih besar bahayanya. Hal yang paling berbahaya adalah terkena penyakit menular seksual seperti sifilis (raja singa), gonorrhea, bahkan terinfeksi virus HIV. Hingga September 2005, terdapat 4186 kasus AIDS dan 4065 kasus HIV positif di Indonesia. Ironisnya, 46,19 % terjadi pada remaja usia 15-29 tahun dan 43,5% terinfeksi melalui hubungan seks yang tidak aman. Tak hanya resiko terinfeksi, resiko kehamilan pun menghantui pihak perempuan sehingga terjadi bisa memicu terjadinya kehamilan tidak diinginkan (KTD) yang berujung pada aborsi. Di Indonesia, setiap tahunnya terdapat sekitar 2,3 juta kasus aborsi, 20 % diantaranya adalah remaja, dan 900.000 pelaku memilih aborsi tidak aman yang bisa berakibat pada kematian. Meskipun dilakukan dengan aman, masih ada resiko kanker leher rahim yang cukup tinggi akibat melakukan hubungan seksual diusia dini.

Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja

Ada beragam pendapat mengenai pengadaan pendidikan kesehatan reproduksi ditingkat sekolah menengah. Ada yang pro dan ada juga yang kontra. Selama ini, informasi mengenai reproduksi hanya diperoleh pada mata pelajaran biologi dikelas XI IPA, sedangkan kelas IPS tidak ada kurikulum mengenai hal tersebut. Dikelas IPA pun sebatas pada penjabaran organ dan fungsi reproduksi. Jika guru masih menganggap seks tabu, informasi mengenai seksualitas dan resikonya umumnya urung disampaikan.

Salah seorang teman penulis menemukan adanya hubungan positif antara pendidikan kesehatan reproduksi remaja dengan perubahan perilaku remaja terkait dengan isu tersebut. Secara umum ada tiga institusi yang akan mempengaruhi pribadi dan tingkah laku seorang anak yaitu keluarga, masyarakat, dan sekolah. Tiga institusi ini tidak bisa dipisahkan satu-sama lainnya dalam mempengaruhi kepribadian maupun perilaku seseorang, termasuk dalam perilaku seksual. Namun seperti yang penulis utarakan sebelumnya, 80% remaja membicarakan masalah seksual dengan teman, sehingga untuk menghindari miskomunikasi informasi diperlukan cara yang lebih efektif agar informasi yang diterima benar. Informasi dari orangtua pun ternyata kurang membantu karena hanya 8% remaja yang merasa nyaman bicara masalah seks dengan orangtua, meskipun pola ini cenderung berubah dikota-kota besar. Dengan demikian, agar pemahaman remaja tentang seksualitas maupun reproduksi yang sehat itu benar, maka peran sekolah sangat penting dan strategis.

Sejauh ini yang penulis ketahui, pencerdasan mengenai kesehatan reproduksi dan pendidikan seksual disekolah menengah dilakukan melalui seminar atau diskusi panel yang diupayakan oleh pihak sekolah dengan mengundang pembicara dari luar sekolah, seperti dari LSM. Sehingga penulis berpikir, alangkah baiknya bila diknas membuat dan mewajibkan sekolah memasukkan kurikulum kesehatan reproduksi dan pendidikan seksual, tidak terbatas hanya pada kelas IPA, tetapi kelas IPS, bahasa, dan SMK/STM/MA. Minimal pelaksanaannya dapat dilakukan bersamaan dengan mata pelajaran pendidikan lingkungan hidup (PLH).

Pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual bagi remaja menurut penulis harus segera ada, mengingat para siswa sekolah menengah tidak sampai 5 tahun akan atau telah menjadi dewasa. Sehingga informasi yang mereka dapatkan harus valid dan tidak menjerumuskan. Ini dimaksudkan remaja tidak salah persepsi dan tidak berperilaku asusila hingga merugikan diri sendiri dan orang lain, khususnya ditinjau dari segi kesehatan. Selain itu, ini juga merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan pemahaman, pengetahuan, sikap, dan perilaku positif remaja tentang kesehatan dan hak-hak reproduksi, serta meningkatkan derajat reproduksinya. Dengan mengetahui informasi yang benar dan resiko-resikonya, diharapkan para remaja bisa lebih bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitarnya. Harapan jangka panjang, angka kejadian seks pranikah, infeksi menular akibat berhubungan seksual, dan kematian akibat KTD dapat menurun drastis sehingga terbentuk manusia-manusia Indonesia yang lebih berkualitas. Alma.


Almahira Az Zahra

Esai untuk kegiatan National Leadership Youth Camp 2010

One comment on “Genting! Pendidikan Kesehatan Reproduksi

  1. Saya sangat setuju dan mendukung sekali seks education untuk remaja khususnya, digalakkan,,
    perlu diketahui saat ini telah banyak lulusan S1 Kesehatan Masyarakat konsentrasi Kesehatan reproduksi yang ada di indonesia khususnya Pulau jawa, akan tetapi belum smua dapat terserap di dunia kerja, padahal ilmunya sangat bermanfaat sekali dan sangat di butuhkan kita warga indonesia baik remaja sampai lansia khususnya tentang pengetahuan kesehatan reproduksi,
    mulai dari rumah sakit, puskesmas dan klinik belum smua menerapkan spesialisasi tentang pentingnya konsultant yang khusus menangani kesehatan reproduksi. disini slain menginfokan saya juga sangat berharap sekali partisipasinya dan opini masyarakat menanggapi eksistensi jurusan kesehatan reproduksi ini kedepan seperti apa dan bagaimana?
    sehubungan dengan ini, jurusan Kesehatan reproduksi juga adalah Program Studi yang telah saya jalani selama 4 tahun dan alhamdulilah pada bulan agustus 2009 kmrn saya telah lulus dengan gelar SKM, jika berkenan untuk sharing dan berbagi ilmu bisa hubungai saya di my blog in solusikesprod.blogspot.com untuk langsung sharing or konsultasi dengan saya ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 21, 2010 by in Opini and tagged , , , , , , , , .
%d bloggers like this: