Never Ending Study

sebuah pembelajaran tiada henti

Perjalanan Menuju Universitas Gunma – bagian 1


Kenapa saya menulis ini?

Alasan pertama adalah karena saya suka menulis (meskipun masih belajar) dan nampaknya memang perlu berbagi pengalaman lewat tulisan dengan banyak orang.

Alasan kedua adalah karena seorang teman meminta oleh-oleh dari Jepang setelah program selesai. Tak tanggung-tanggung, yang dia minta bukan dalam bentuk souvenir, tetapi tulisan selama 2 minggu disana minimal 50 halaman A4. Ini gila! Tapi justru disitu tantangannya. Menurutnya ada keuntungan yang bisa saya peroleh, yaitu bisa mengalay sebebas-bebasnya dan dibaca orang dengan senang. Tetapi perspektif saya berbeda. Saya ingin bisa berbagi dan mengasah kemampuan saya dalam menulis. Sebenarnya akhir-akhir ini sangat malas, tetapi karena permintaan ini justru semangat saya terkobar kembali. Tapi, rasanya berbagi sebelum program dimulai juga menyenangkan. Semoga saja memang benar ini bisa menjadi pembelajaran yang baik bagi saya, sebagai seorang penulis, dan teman-teman yang menyempatkan diri tuk membaca tulisan-tulisan saya.

Hm… Kenapa juga orang harus merasa senang karena membaca tulisan saya?

Apapun alasannya, semoga memang benar.

Selamat membaca…


Dua tahun yang lalu, pertama kalinya saya mendengar tentang program pertukaran pelajar  ke Universitas Gunma di Jepang. Saat itu yang diberangkatkan adalah angkatan 2005. Masih terekam dengan jelas dalam ingatan saya ketika teh putri sedang hectic dengan tugas-tugasnya sebagai sekretaris jenderal, sambil menyusun esai berbahasa Inggris sebagai syarat ikut seleksi program ini. Kalau tidak salah di saung paling kiri dari plaza FK Unpad.

Program pertukaran pelajar antara Fakultas Kedokteran dari Universitas Padjadjaran dengan Universitas Gunma telah berlangsung selama 13 tahun. Setiap tahunnya, FK Unpad mengirimkan 4 mahasiswanya sebagai delegasi. Baru pada tingkat 3 saya mengetahui bahwa mahasiswa yang memiliki kans besar mengikuti program ini adalah yang aktif dikegiatan kemahasiswaan. Apalagi saat giliran angkatan 2006, saya mendengar kabar bahwa yang diperbolehkan mengikuti seleksi hanya mahasiswa yang nilai CV-nya masuk 10 besar.

Adalah terlalu naïf jika mengikuti banyak kegiatan kemahasiswaan untuk menabung CV dan menjadi delegasi fakultas, sempat pemikiran seperti itu muncul. Tetapi setelah dipikir ulang, nampak hal tersebut tidak masalah karena justru disitulah nilai penting sebuah kompetisi. Ya! Kompetisi untuk aktif tak hanya dibidang akademik semata. Perjalanan ke Gunma adalah reward dari apa yang telah diusahakan selama 3 tahun menjadi mahasiswa. Hadiah akan sebuah pengabdian yang telah kita berikan untuk orang lain.

Maka, karena menyadari bahwa ternyata aspek paling penting adalah kegiatan kemahasiswaan,  rasa minder saya sedikit terobati. IPK saya tak pernah sampai diatas 3.5, nilai TOEFL sangat pas-pasan, dan kemampuan bahasa Inggris pun payah. Tapi toh, kalau belum mencoba,  kita tak akan pernah benar-benar tahu sampai batas mana potensi diri yang bisa kita kembangkan, bukan?

Dalam pandangan saya, para mahasiswa yang mengikuti program ini adalah orang-orang yang sangat hebat. Tak hanya dalam hal akademik, tetapi juga dedikasi mereka terhadap kemajuan mahasiswa di FK Unpad. Minder? Wah, jangan ditanya lagi. Setiap kali mendengar cerita dari kakak mentoring saya tentang Gunma, ada perasaan iri sekaligus bangga pada mereka. Seperti ada seseorang yang berteriak didalam hati “Suatu hari nanti saya pun ingin kesana. Bertemu, berbagi ilmu, dan saling menginspirasi dengan banyak orang pasti menyenangkan. Jadi, ayo berusaha!”

Akhir tahun kedua, menurut teh Zulmi, nilai CV saya masuk 10 besar diangkatan (tapi tentu saja belum boleh ikut program ini). Ini membuat saya sedikit percaya diri untuk mengikuti program ke Gunma.  Sempat terpikirkan pula untuk menabung CV dengan mengikuti beragam kegiatan selama tahun ketiga.

Namun, tahun ketiga adalah tahun terburuk dalam sejarah kemahasiswaan dan akademik yang pernah saya jalani selama 3 tahun menjadi mahasiswa. Entah mengapa mata kuliah tahun ketiga nampak berat bagi saya. Amanah di kemahasiswaan sekecil apapun tak bisa diselesaikan dengan baik sesuai standar yang biasa saya terapkan. Akhirnya diputuskan sejak bulan November 2009 saya apatis terhadap kegiatan kemahasiswaan. Tetapi, apa yang terjadi? Akademik saya malah semakin tak terurus karena manajemen waktu yang semakin buruk. Ketika banyak kegiatan, akal dipaksa tuk berpikir lebih efisien dan dituntut untuk bisa memilih prioritas serta mengalokasikan waktu akademis dan kemahasiswaan lebih seimbang. Ditambah lagi dengan stigma bahwa nilai sangat penting (cumlaude) bagi mahasiswa membuat keterpurukan saya semakin menjadi-jadi. Saya punya standar sendiri mengenai kompetensi dokter yang akan saya terapkan. Bagi saya, tak perlu lulus cum laude, tak perlu nilai bagus. Hal paling penting adalah selama menjadi mahasiswa saya membuat banyak kesalahan, dan karena tahu itu salah, akhirnya saya bisa belajar dan bisa mengingatnya terus-menerus. Tetapi nampaknya saat itu prinsip tersebut tidak penting bagi orang-orang terdekat saya, akhirnya saya memutuskan tuk benar-benar tidak peduli pada akademik hanya untuk membuat mereka kecewa. Tapi toh kenyataannya, sulit untuk tidak peduli pada akademik.

Akhir Januari, saya mulai menyadari ada sesuatu yang aneh pada diri saya. Mungkin agak berlebihan, tetapi saya merasa kesulitan berkomunikasi dengan sahabat yang berbeda jurusan keilmuan. Bahasa yang saya gunakan terlalu textbook, rumit pula. Padahal kunci penting dalam komunikasi salah satunya adalah kesamaan bahasa, yang intinya harus saling memahami. Tak perlu terlalu sederhana, tetapi tak perlu jua terlalu rumit. Keputusan tuk vakum dari kegiatan non-akademis adalah kurang bijaksana bagi hidup karena membuat saya terbatas berkomunikasi dengan banyak orang. Jujur, itu kabar buruk bagi saya.

Meskipun masih ogah-ogahan dengan tingkat kejenuhan yang cukup tinggi, saya mulai berani kembali ambil bagian dalam kemahasiswaan. Seperti mengikuti seminar (tentu saja kalau tempatnya jauh atau tiket mahal saya tidak ikut karena malu minta tambahan uang saku pada orangtua), memiliki tugas sebagai panitia sebuah kegiatan, hingga mengiyakan permintaan untuk mengisi materi disekolah. Pokoknya saya harus terus bergerak, tidak boleh diam terlalu lama. Bahkan tentang CV atau apapun tentang Gunma sudah tak terpikirkan.

Minggu kedua Februari, saya dan seorang teman berhasil menyepakati tanggal yang baik bagi saya tuk menjadi fasilitator di sebuah homeschooling di Tasikmalaya. Disini titik awal untuk mengikuti Gunma dan berbagi dengan banyak orang mulai muncul lagi. Pikiran saya kembali pada dua tahun lalu, saat berada dalam saung yang sama dengan teh putri, dan teringat makalah dalam seleksi Gunma adalah tentang kemahasiswaan. Maka ide kasar mengenai makalah yang akan saya buat nantinya pun saya tulis. Tak hanya itu, saya juga menuliskan kembali beberapa target tahun 2010 dan menempelkan 2 kartu (sebetulnya ada 3) di dinding kamar saya:

“Fasilitator Rumah Bintang, Februari 2010”

“Gunma University, Student Exchange Program 2010”

Bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 8, 2010 by in activity, Cita-Cita.
%d bloggers like this: