Never Ending Study

sebuah pembelajaran tiada henti

Sekolah Kehidupan dalam Workshop


Setiap orang dewasa pasti mengalami masa remaja. Pengalaman tiap orang mengenai masa remajanya pun berbeda. Ada yang menganggapnya menarik, penuh tantangan, bahkan menyedihkan. Tergantung dari sudut mana mereka memandangnya.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), kategori remaja adalah seseorang yang berusia antara 12-24 tahun. Remaja merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa, waktu yang disebut-sebut sebagai proses pencarian jati diri.

Berbeda dengan zaman orangtua kita dahulu, dewasa ini hampir seluruh masa remaja kita dihabiskan dibangku sekolah, yaitu pendidikan formal: SD, SMP, SMA, hingga ke Perguruan Tinggi. Dalam masa pendidikan formal diharapkan remaja juga belajar mengenai kehidupan, tidak hanya sekedar rumus dan teori semata. Menurutku, pelajaran mengenai kehidupan hanya bisa didapat melalui sekolah, yaitu sekolah kehidupan.

Sekolah kehidupanku adalah tempatku untuk belajar banyak hal mengenai diriku sendiri dan orang lain. Lokasi sekolah ini bagi setiap orang bisa berbeda-beda. Materi yang didapatpun bisa sangat beragam, tergantung pada orangnya masing-masing. Salah satu sekolah kehidupanku adalah workshop. Bukan tentang materi yang kudapatkan didalamnya, melainkan pelajaran untuk menghargai  hal-hal yang belum kita ketahui sebelumnya.

Aku vs Film

Awalnya, aku tak begitu tertarik dengan film, bahkan cenderung memandang sebelah mata karena banyak hal yang kurang bermanfaat didalamnya. Setidaknya itu yang kupikirkan saat SMA karena kesal dengan banyaknya tayangan yang tidak wajar. Misalnya adegan anak kecil saling menindas, orang baik yang nyaris selalu bodoh, dan tayangan kejahatan yang terlalu di ekspos secara mendetil daripada proses hukumnya.

Tapi setelah membaca buku tentang film, menulis sinopsis film, ikut dalam pemutaram, dan mengikuti workshop film, semua pandangan itu berubah. Hal yang kulihat saat itu hanya sebagian kecil saja dan kebetulan bagian yang menurutku buruk, tapi itu bukan alasan untuk menghakimi bahwa semua hal yang terlibat didalamnya pun buruk. Semua tergantung pada pembuatnya, bukan profesinya.

Dalam salah satu pemutaran film pendek, aku menyadari bahwa film dengan durasi 5 menit bisa memiliki efek yang sangat dahsyat dibandingkan dengan setumpuk buku bacaan. Itu yang kusuka dari film, meski tak pernah kutahu bagaimana teknis pembuatannya.

Aku vs Jurnalistik

Aku tertarik pada dunia menulis (jurnalistik) karena kupikir kalau sudah bekerja, aku harus rajin membuat laporan. Membuat sebuah laporan artinya aku harus menulis. Padahal, menulis adalah pekerjaan yang ku benci. Alasannya sepele, tanganku pasti pegal-pegal, belum lagi ditambah tulisan yang amburadul.

Hingga akhirnya aku mengikuti sebuah workshop jurnalistik, mataku pun terbuka lebar. Seolah sadar kalau aku memang tidak banyak tahu tentang banyak hal. Dunia kepenulisan adalah sesuatu yang bisa dipelajari, bukan hanya mengandalkan bakat semata. Siapapun bisa terjun didalamnya asalkan mau berusaha. Bagian paling keren dari menulis adalah ia bisa mempengaruhi dunia. Contohnya serangan agresi militer Israel ke Palestina yang jelas-jelas melanggar HAM dan merupakan kejahatan perang Internasional. Tetapi dengan propaganda  Hamas melalui media massa, Israel membuat wacana bagi dunia bahwa ini semua karena Hamas sehingga agresi tersebut seolah mendapat pembenaran. Alih-alih masalah pelanggaran HAM yang diusut, nampaknya masalah Israel-Hamas masih lebih sering dibahas.

Aku vs Hiphop

Aku tidak pernah tahu apa itu hiohop sampai akhirnya aku mencari tahu karena harus menjadi mentor menulis dalam workshop hiphop. Karena tidak mendapat informasi yang kuinginkan di internet, aku bertanya pada seorang teman tentang hiphop. Tapi sayang, pandangannya tentang musik hiphop terlalu negatif. Aku malah bingung dan semakin penasaran.

Akhirnya aku mendapat penjelasan sebelum acara workshop dimulai, sebagai pembekalan mentor tentunya. Ternyata, pandangan orang lain dan pandangan orang yang menggeluti dunia hiphop sangat berbeda jauh. Dari yang aku tangkap. hiphop adalah semangat. Sebuah semangat untuk tetap berkreasi ditengah keterbatasan. Semua hal yang kuperoleh ternyata berbeda jauh dengan opini temanku.

Ada banyak pelajaran berharga yang kuperoleh. Aku belajar untuk tahu dengan jelas terlebih dahulu tentang sesuatu sebelum mengambil sikap. Agar aku tidak mudah terpengaruh oleh orang lain dan tidak menjadi orang yang sok tahu

Workshop dan Sekolah Kehidupanku

Dalam dua tahun terakhir, aku beberapa kali mengikuti workhop dengan beragam tema. Tidak hanya yang berkaitan dengan kegiatan akademikku, tapi juga hal-hal yang sama sekali tidak berhubungan dengan minat dan bakatku. Dari semua kegiatan yang kuikuti, ada beberapa poin yang kudapatkan disana. Aku belajar memahami bahwa disekitarku banyak sekali perbedaan pendapat dan cara berpikir. Aku mendapat banyak sekali teman dan belajar untuk bekerja sama dengan menyenangkan. Aku juga bisa menemukan orang yang satu pikiran, sehingga membuatku lebih semangat karena aku tidak sendiri dalam meraih cita-cita.

Menurutku, sekolah kehidupan bisa ada kapanpun kita mau. Banyak momen yang secara tidak lagsung merupakan bagian dari sekolah kehidupan. Saat termenung didalam bis, saat bertemu dengan anak kecil, atau bahkan saat memperhatikan semut yang berbaris rapi. Bagiku, setiap waktu yang kujalani adalah sekolah, karena dalam keseharian itu aku menemukan banyak sekali pelajaran berharga.

 

Tulisan untuk website Jalan Remaja, tahun 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 23, 2010 by in activity and tagged , , , , , .
%d bloggers like this: