Never Ending Study

sebuah pembelajaran tiada henti

Bingung dengan Sistem Kita


Berapa sih masuk kedokteran sekarang?
Begitu pertanyaan umum para orangtua yang tak sengaja berkenalan denganku sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Mau pagi, siang, bahkan malam hari pertanyaannya tak pernah berubah.

Mahal.

Itu kata pertama yang muncul saat mendengar kata sekolah dokter.

Benarkah?

Mungkin tidak, buat orang-orang yang pernah mengenyam pendidikan tinggi.
Bisa jadi teramat murah bagi orang yang penghasilannya lebih dari orang lain.
Buat orang yang tak pernah memegang uang tunai sebanyak 1 juta rupiah seuumur hidupnya, angka 2 juta/semester teramat besar bagi mereka.

Mungkin aku tak pernah memahami betapa sulitnya berada dalam kondisi ekonomi yang pelik. Lalu membanding-bandingkan biaya kuliah di kampusku yang kini mencapai 2 juta rupiah dengan kampus swasta.

Terjangkaulah, kalau kita benar-benar berniat menginginkannya.
Ada begitu banyak beasiswa berseliweran di kampus, agak-agak ribet mengurusnya. Tapi namanya juga perjuangan, harus mau dong bersusah-payah terlebih dahulu.

Dan hari ini aku benar-benar menyesal pernah berpikiran seperti itu.

Aku tahu biaya sekolah itu mahal, tapi toh tak pernah peduli pada orang-orang yang menganggap itu mahal.

Dan memang, biaya sekolah di negeri kita, memang mahal.

Tak usahlah kita membandingkan dengan angka rupiah, karena setiap orang akan memandang dengan sangat sangat subjektif. Bandingkan saja dengan kebutuhan masyarakat. Berapa banyak sih warga negara kita yang menikmati bangku sekolah dengan utuh tanpa memusingkan urusan biaya? Lalu, dari sekian banyaknya itu, berapa jumlah siswa yang benar-benar dari kalangan tidak mampu? Apakah mereka tuntas dalam proses pembelajarannya? Tuntas disini bukan dalam hal lulus sekolah, tetapi proses bersosialisasi, belajar mengenal diri dan lingkungannya, serta pola pikir jangka panjang yang terbentuk.

Adikku sekolah di sekolah negeri. Gratis sih memang, tapi biaya buku, seragam, dan kebutuhan lainnya ternyata tak sedikit. Kalau zaman saya sekolah SMP dulu harga buku lebih rasional di sekolah, sekarang lebih mahal. Belum lagi beberapa anjuran kepada orangtua untuk membeli seragam, sepatu, pin, dan buku di koperasi sekolah yang harganya lebih tinggi dari pasaran (kadang malah si buku atau LKS ga dipake). Ongkos juga mahal. Bingung kan…

Aku tergelitik dengan sebuah pernyataan di milis (karena ini punya fk unpad, jadi nyinggungnya tentang dokter), agak sarkasm memang…

Kapan anak seorang pembantu dengan gaji 500 ribu bisa menjadi dokter? Hampir
mustahil jawabannya setelah kita merdeka 65 tahun ini.

Apa perlu disesali? Biarkan saja. Ayo kita bangun pendidikan karakter, tak
apa anak pembantu tidak jadi dokter, sudah cukup lulus SD, jadi tukang sapu di
supermarket jadi penolong berhati mulia, dokter juga.
…

(ada sebuah puisi)
Aku bertanya :
Apakah gunanya pendidikan
Bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
Di tengah kenyataan persoalanya??

Apakah gunanya pendidikan
Bila hanya mendorong seseorang
Menjadi layang-layang di ibukota
Kikuk pulang ke daerahnya??
Apakah gunanya seseorang
Belajar filsafat,teknologi,ilmu kedokteran,atau apa saja.
Ketika ia pulang ke daerahnya,lalu berkata :
”disini aku merasa asing dan sepi” 
(WS Rendra)

Tapi, itu kata kita, yang seolah mengerti tentang dunia pendidikan. Bahwa sekolah kehidupan lebih penting. Bahwa tak mengapa tak sekolah tinggi asal kreatif dan bisa memanfaatkan potensi. Tapi percayalah, itu semua pun butuh pendidikan (meski informal). Dan amat disayangkan karena kau hidup di Indonesia, tanpa ijazah, kau dianggap tak kompatibel meski etos kerjamu baik. Memang orang-orang tertentu tahu betul tentangmu dan merekomendasikanmu, tetapi semuanya tetap berbenturan jika menyangkut birokrasi. (God! dan ini terjadi sama teman saya!)

Lalu ada yang membalas:
Kalau saya jadi lulusan SMA sekarang, jangankan masuk FK, mungkin masuk salah satu jurusan sosial atau bahasa aja sudah nggak bisa. Sudah kuota masuk via UMPTN/SPMB dipangkas habis, biayanya juga nggak kira-kira mahalnya :(

Ke mana larinya 20% APBN ya? Tapi kalau tunggu APBN ya mungkin telat…

Jadi ingat kata Pak Ujang (kabag SBK zaman saya kuliah), jangan pakai syarat IPK, orang miskin mana bisa makan bergizi atau naik mobil ber-AC sehingga belajar bisa lebih konsentrasi & nilainya bagus? Tapi lebih baik diberi ikatan dinas aja… Di milis ini juga ada banyak alumni yang di dinkes berbagai daerah kan? Jangan cuma berkoar-koar butuh dokter tapi nggak mau keluar modal. Mungkin ini saatnya tanam ‘investasi’ untuk dituai di masa depan.

Seperti kata temanku ketika kami berdiskusi tentang kelompok high risk yang menjadi jangkauan kami “Mereka, mana mungkin aware dengan isu kespro kalau ga kita yang jemput bola kasih tau. Ini kan bukan kebutuhan sekunder, lah kebutuhan primer aja mereka masih pusing gimana mau cari tahu.”

Harusnya negara kita tidak begini.
Harusnya pendidikan merata itu benar.
Tapi mengalokasikan waktu anak untuk pendidikan buat orang yang susah ya pengorbanan sangat besar: tak ada yang membantu, keluar uang ekstra untuk biaya sekolah, belum lagi anak merengek karena ingin ini-itu seperti teman sebayanya, dll…
Yang masuk sekolah favorit pun pada akhirnya anak-anak berada karena mereka mempersiapkan diri lebih baik, misalnya dengan ikut bimbel, alokasi waktu yang banyak untuk beristirahat tanpa memusingkan hal lain selain menuntut ilmu.

Dan yang menyedihkan, anak sekarang kadang tidak menghargai perjuangan orangtuanya. Bukannya menghargai, malah bilang “ya itu kan memang seharusnya tugas orang tua.” (eh, ini bukan kata saya, ini kata orangtua2 yang pernah kasih nasehat sama saya)

Aku tak bilang itu tak adil, karena pada akhirnya Allah yang akan menilai semua usaha.

Ah, aku juga bingung sebenarnya mau nulis apa. Aku hanya sangat kesal dan aku tahu aku tak akan bisa melakukan apa-apa, ditambah lagi ini bukan bidang yang akan kugeluti nantinya.

Aku kesal dengan pemerintah.
Kesal dengan point of view masyarakat.
Kesal dengan karakter yang sekarang cenderung ingin instan.
Kesal dengan sistem birokrasi yang ada.
Kesal pada kenyataan banyak orang tak beruntung.
Kesal pada cara berpikir orangtua sekarang, anak-anaknya, dan lingkungannya.
Kesal pada banyaknya orang yang memanfaatkan situasi.
Dll.. dll yang sebenarnya aku pun bingung kenapa.

Aku juga tidak berhak menghakimi karena aku tidak tahu apa yang melandasi ini semua.

Kalau ingat penghasilan tetangga aku yang kurang dari 15.000/hari dengan 2 orang anak, rasanya jadi iba. Tapi ketika mendengar pengeluarannya banyak terbuang untuk hal-hal tak penting sampai hutang sana-sini, aku bingung harus bersikap seperti apa. Mungkin ia awalnya hanya ingin merasakan seperti orang lain dengan cara berpikirnya yang dia bisa pikirkan. Tapi banyak hal yang pada akhirnya mengorbankan pendidikan anak-anaknya.

Argh! Bingung! Pemerintah aneh, masyarakat juga aneh.

Harus dari manakah memulai? Orang bilang harus dari diri sendiri? Tapi masa iya mau menunggu diri kita sendiri dulu beres baru peduli pada orang lain? Mau sampai kapan? (maksudku, setelah lulus dan bekerja).

Kadang berpikir, apakah zakat menjadi sebuah solusi kalau akar permasalahannya adalah uang. Toh orang islam itu banyak (tapi banyak yang tak mampu juga). Tapi sepertinya masalahnya tidak sebatas itu dan lebih semrawut dari yang dibayangkan.

Dan aku pun tetap tak bisa berbuat apa-apa selain menulis.

#ditulis setelah membaca beberapa materi kuliah

2 comments on “Bingung dengan Sistem Kita

  1. tamcin
    March 19, 2011

    blogmu baru muncul lg ma? kmrn g bs dibuka2.. (*ketahuan deh saya suka ngikutin :-p). jgn kesal2.., lgsg kejar anthropology medicine aja..cocok buat alma tuh, buat majuin indonesia ma, biar g sebel2 lagi..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 15, 2011 by in activity and tagged , , , , .
%d bloggers like this: