Never Ending Study

sebuah pembelajaran tiada henti

Antraks, Endemi yang Tak Kunjung Usai!


Akhir Februari lalu marak berita tentang penyakit antraks yang menyerang warga Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Untuk mengantisipasi penyebaran penyakit tersebut, pemerintah Boyolali mengambil langkah cepat dengan melakukan pengobatan dan pemberian vaksi kepada ternak sapi di Boyolali.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa di Indonesia, penanganan penyakit dilakukan ketika wabah telah muncul di masyarakat. Sehingga tak heran apabila kita menemukan penyakit akan muncul secara berulang di tempat yang sama dalam waktu yang singkat.

Wabah antraks sendiri merupakan hal yang biasa terjadi setiap tahun di Indonesia. Pada 2010 wabah ini pernah terjadi di Sragen (Jawa Tengah) dan Goa (Sulawesi Selatan). Bahkan pada tahun 2009, wabah antraks sempat juga terjadi di Boyolali, kendati kejadiannya di lokasi berbeda.

Serba Serbi Antraks
Antraks adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis. Bakteri ini berbentuk batang, bisa membentuk spora, tidak mempunyai alat gerak atau non-motil, un-aerob, dan merupakan bakteri gram positif. Penyakit ini bisa menyerang hewan maupun manusia (zoonosis) melalui kontak langsung dengan bibit penyakit yang ada di hewan atau daging, tanah dan rumput.

Hampir semua hewan berdarah panas bisa terkena penyakit antraks. Di Indonesia, penyakit ini sering dijumpai pada kerbau, sapi, kambing, domba, kuda, dan babi. Secara epidemiologi, Bacillus anthracis menyukai tanah berkapur dan tanah yang bersifat basa (alkalis). Umumnya antraks menyerang hewan pada musim kering (kemarau), dimana rumput sangat langka, sehingga sering terjadi pada ternak (terutama kuda) tertular lewat makan rumput yang tercabut sampai akarnya. Lewat akar rumput inilah bisa terbawa pula spora dari antraks.

Penyakit antraks dikenal dengan bermacam-macam nama, seperti Radang Kura, Radang Limpa (karena hewan yang diserang limpanya membengkak dan gembur), Malignant Pustula, Malignant Edema, Woolsoster’s Disease, Ragpickers Disease, Splenic Fever atau Charbon. Sedangkan masyarakat Jawa Barat menyebut dengan Caneung Hideung.

Bacillus anthracis memiliki dua tahap dalam siklus hidupnya yaitu fase vegetatif dan spora. Spora yang masuk ke tubuh inang (manusia atau herbivora) akan berubah menjadi bentuk vegetatif, kemudian berkembang biak. Sebelum inangnya mati, sejumlah besar bentuk vegetatif bakteri antraks memenuhi darah dan bisa keluar dari dalam tubuh melalui pendarahan (hidung, mulut, anus, dll). Ketika inang mati dan oksigen tidak tersedia lagi di dalam darah, bentuk vegetatif itu memasuki fase dorman. Jika fase dorman berkontak dengan oksigen di udara bebas, ia akan bersporulasi (membentuk spora).
Fase spora umumnya berada di tanah dan sangat stabil. Tak hanya itu, spora tersebut juga bisa terus hidup selama beberapa dekade. untuk mematikan spora diperlukan pemanasan dengan sterilisasi hingga suhu 100 derajat celsius, tetapi pemusnakan dengan cara ini masih bisa gagal. Karena ketahanannya terhadap lingkungan buruk, spora antraks sering digunakan sebagai senjata biokimia dengan bentuk sediaan media bubuk tertentu.

Klasifikasi Penyakit Antraks
Terdapat 3 tipe penyakit antraks, yaitu antraks yang menginfeksi kulit, paru-paru, dan sistem pencernaan (jarang). Pada kasus Boyolali, penderita mengalami antraks kulit, yang tingkat risiko kefatalannya paling rendah. Satu sampai tujuh hari sejak pertama terinfeksi, akan muncul papul pruritus. Pada awalnya menyerupai gigitan serangga. Papul dengan cepat berkembang menjadi vesikel, berkembang menjadi pastul, dan akhirnya menjadi ulkus nekrotik dengan berdiameter 1-3 cm dan eschar hitam di tengah. Setelah itu timbul edema, limfangitis, limfadenopati dan gejala sistemik. Dalam waktu 7-10 hari, eschar berkembang penuh, menjadi kering, lusen dan terpecah-pecah. Gejala yang timbul biasanya terjadi pada permukaan lengan atau tangan, sering pula diikuti pada bagian wajah dan leher.

Antraks yang memiliki resiko kematian paling tinggi adalah antraks paru. Umumnya, penderita terkena wabah akibat serangan bioteroris. Mula-mula spora yang terhirup oleh manusia akan masuk ke alveoli, mengalami fagositosis oleh macrophag, selanjutnya dibawa ke mediastinum dan kelenjar getah bening di daerah peribronkial melalui kelenjar limfatik. Disinilah spora membelah diri, menjadi bakteri aktif (fase vegetatif) dan memproduksi toksin edema dan toksin lethal. Toksin akan membunuh sel di dekatnya, lalu memperlihatkan gejala klinis yang diakibatkan oleh adanya kematian sel sedikit demi sedikit. Proses tersebut menyebabkan terjadinya pembengkakan dan pendarahan. Infeksi kemudian menyebar ke seluruh tubuh melalui sistem sirkulasi darah, membuat beberapa organ tubuh mulai tidak berfungsi dan sistem sirkulasi pun kolaps. Gejala awal mirip seperti infeksi virus, yaitu demam, lemas, dan rasa tidak nyaman dibagian dada atau abdomen yang secara cepat semakin parah. Masa inkubasi hingga menyebabkan kematian diperkirakan terjadi hanya dalam waktu 48 jam.

Preventif dan Kuratif
Jadi, karena di Indonesia sering muncul wabah antraks, apakah antraks merupakan penyakit daerah tropis? Ternyata tidak! Bahkan Pulau Corsica di wilayah Perancis pun pernah diisolasi akibat antraks hampir selama 40 tahun. Karena sifatnya yang bisa bertahan selama berpuluh-puluh tahun inilah, setidaknya salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah mengetahui pencegahan dan pengobatannya. Sebagai pencegahan, dapat digunakan vaksin antraks, terutama pada hewan ternak. Sedangkan pengobatannya dengan menggunakan antibiotik, seperti amoxicillin, vanomycin, ciprofloxacin, doxicyline, eritromycin, penicillin, tetracycline, streptomycine, dan chloramphenicol. Semakin cepat diagnosis ditegakkan disertai pemberian antibiotik, semakin cepat pula jiwa penderita bisa terselamatkan. (alma)

Tulisan untuk buletin WDK Medicinus FK Unpad edisi Maret 2011

One comment on “Antraks, Endemi yang Tak Kunjung Usai!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 10, 2011 by in activity and tagged , , , , , .
%d bloggers like this: