Never Ending Study

sebuah pembelajaran tiada henti

Will get Married: Menuntut Ilmu Sebelum Pernikahan


Bagi kaum muslim, pernikahan adalah salah satu gerbang menuju ridha Illahi. Sebuah jalan yang bertanggung jawab untuk membentuk kebudayaan agung dan peradaban mulia.

Pada pertengahan bulan Januari, tim dokter muda DKM Asy-Syifaa’ RSHS mengawali tahun 2013 dengan menyelenggarakan seminar Will get Married. Acara yang mengusung tagline “Good knowledge, well prepared, happy married.” berlangsung selama dua hari, yaitu tanggal 19-20 di lantai 6 gedung Teaching Hospital, Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Mayoritas peserta terdiri dari kalangan umum, baik laki-laki maupun perempuan. Kegiatan yang merupakan sekolah pranikah ini memiliki keunggulan tersendiri, terutama karena banyaknya pembahasan persiapan pernikahan ditinjau dari sisi medis.

Kegiatan yang diketuai oleh Gesti Rachmani ini menghadirkan 13 pembicara, yang terbagi dalam 8 sesi. Diantaranya sesi mengenai proses pernikahan yang berkah, fiqh pernikahan, mengenal diri dan calon pasangan. Materi tentang menikah pun tak luput untuk disampaikan, yaitu tentang karir dan rumah tangga, kehamilan sehat dan berkah, perencanaan keluarga, tumbuh kembang anak, hingga teknik parenting.

wgm

Menuju Pernikahan Berkah: Proses Awal yang Baik

“Karir atau rumah tangga dulu?”
“Mapan atau menikah dulu?”

Didalam agama Islam, pernikahan merupakan salah satu sunnatullah yang berlaku pada semua makhlukNya. Baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. Hal ini sesuai firman Allah dalam QS. Adz. Dzariat ayat 49 yang artinya, “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” Tujuannya untuk meraih ridha Allah, melaksanakan sunnah rasul, dan mendidik keturunan yang shaleh/shalehah.

Tentunya mempersiapkan diri adalah hal terbaik yang harus diusahakan agar pernikahan berkah. Berkah adalah bertambahnya kebaikan yang bersumber dari Allah, kebaikan yang abadi sehingga semakin dekat denganNya. Persiapan dimulai sejak awal, diawali dengan niat yang baik, usaha menjaga hati, memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan, hingga merencanakan aspek finansial.

Memantapkan hati bahwa pilihan kita yang terbaik adalah proses sebuah ikhtiar. Subjektivitas dan objektivitas saat memilih seseorang sebagai suami/istri atau calon ayah/ibu bagi keturunan kelak akan sangat berpengaruh. Antara lain dengan memperhatikan silsilah yang baik, lingkungan sosial, dan ketaatan terhadap agama. Islam mengatur pernikahan dengan sempurna. Oleh karena itu, memahami kedudukan pernikahan dalam Islam sangat penting sebelum akad nikah dilangsungkan.

Muslimah: Antara Karir dan Rumah Tangga
Menikah memerlukan kejelasan visi tentang arah keluarga yang akan dibentuk. Sehingga tatkala menjalaninya, baik suami maupun istri tidak kebingungan orientasi dan kehilangan arah. Inilah yang membedakan pernikahan visioner dengan pernikahan pada umumnya yang hanya mengandalkan hasrat biologis.

Perempuan yang sudah menikah memiliki 2 fungsi secara sosial, yaitu secara individu sebagai istri, ibu, anak, dan menantu; serta secara sosial sebagai bagian dari lingkungan, keluarga besar, dan profesi. Menurut dr. Dewi Inong, beraktivitas diluar rumah bagi seorang istri harus dengan izin suami. Begitupun dengan pilihan karir. Karena saat diakhirat nanti, yang akan ditanyakan bukan bagaimana pekerjaanmu, tetapi bagaimana anak dan suamimu. Tentunya memiliki istri yang cerdas, pandai mendidik anak, dan punya kiprah di masyarakat merupakan prestasi tersendiri bagi suami.

Kesepakatan mengenai karir perlu dibicarakan sejak awal proses taaruf. Hal ini agar tidak mengecewakan kedua belah pihak. Pun dengan keputusan untuk melanjutkan sekolah. Perlu ada pemahaman yang sama antar suami-istri, terutama mengenai tanggung jawab profesi dan pengembangan potensi. Menikah bukan berarti potensi diri berakhir begitu saja. Pernikahan yang visioner, justru akan semakin melejitkan potensi kedua insan.

Finansial, Bicarakan Sejak Awal
Umumnya diskusi keuangan dihindari sebelum menikah. Tidak heran bila banyak pasangan yang bingung mengelola keuangan rumah tangganya, sehingga kerap menjadi sumber pertengkaran. Menurut Elsa Febiola, konsultan perencana keuangan, ada 3 mitos keuangan yang dialami kebanyakan orang sebelum menikah. Mitos pertama, uang tidak perlu dibicarakan. Kedua, adanya anggapan bahwa kemampuan mengatur keuangan itu otomatis. Terakhir, pemikiran bahwa merencanakan keuangan bisa ditunda setelah menikah.

Biaya pernikahan, kebutuhan pernikahan di tahun pertama, dan persiapan kehadiran buah hati perlu direncanakan. Jangan sampai pasangan tidak siap atau malah tidak menyadari adanya biaya-biaya yang diperlukan setelah menikah. Perencanaan keuangan bisa dipelajari dan perlu latihan.

Namun sebagai seorang muslim, perlu dipahami pembicaraan tentang uang tak sekedar merinci kebutuhan apa saja yang diperlukan, melainkan harus tercapaian kesamaan visi dan makna uang bagi keluarga. Perlu ditekankan bahwa uang merupakan alat tukar untuk mempermudah kehidupan manusia. Hal ini penting agar hidup tak semata diukur dengan nominal.

Menjadi Orangtua Berkualitas

“Budi pergi ke sekolah. Ayah pergi ke kantor. Ibu pergi ke pasar.”

Contoh kalimat tersebut dipelajari saat duduk di bangku sekolah dasar. Secara tidak langsung, muncul stigma bahwa tugas ayah sekedar mencari nafkah dan ibu yang bertugas mengurus rumah. Padahal dalam mendidik anak harus dual parenting, yaitu ibu dan ayah harus bekerja sama. Seorang ayah harus berusaha meluangkan waktu untuk membina keluarganya. Karena diakhirat nanti, yang akan ditanyakan bukan tentang seberapa banyak jumlah harta terkumpul, melainkan bagaimana usahanya dalam membina anak dan istrinya.

Persiapan menjadi orangtua dijelaskan pada sesi tumbuh kembang anak bersama dr. Meita Dhamayanti dan Psikolog Rahmi Dahnan. Agar anak dapat tumbuh secara optimal, calon orangtua perlu mencari tahu ilmu tentang pertumbuhan dan perkembangan anak. Misalnya mengenai pertumbuhan fisik anak sejak masa kandungan hingga dewasa, memahami cara kerja otak untuk memaksimalkan potensi intelektual, sosial, dan emosional, serta hal-hal yang mempengaruhinya. Seorang anak berhak mendapat asupan gizi yang baik, limpahan kasih sayang orangtua, pengasuhan yang benar sesuai norma agama, serta kesempatan anak untuk bereksplorasi.

Anak perlu memiliki ketrampilan dasar, keterampilan berpikir, kualitas kepribadian yang baik sebagai modal di masa depan. Ketiga aspek tersebut perlu dikembangkan secara sistematis, terencana, dan terarah. Tentunya perlu kesabaran ekstra sebagai orangtua karena tidak bisa dilakukan secara kebetulan atau sambil lalu. (Almahira Az Zahra)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 14, 2013 by in activity, DKM Asy-Syifa, kesehatan.

Navigation

%d bloggers like this: