Never Ending Study

sebuah pembelajaran tiada henti

Pengalaman Mempersiapkan Ujian PPDS


Bismillahirrahmanirrahim.

Karena banyak yang bertanya, sepertinya lebih enak dituangkan dalam bentuk tulisan. Ini berdasarkan pengalaman selama 2x mengikuti ujian PPDS dan juga hasil ngobrol-ngobrol dengan banyak orang. Setiap individu memiliki pengalaman berbeda, jadi apa yang saya alami, belum tentu berlaku untuk teman-teman yang membaca.

ppds

Formulir-Lamaran-PPDS Unpad (file word)

Surat Permohonan PPDS Unpad(file word)

Apa yang harus dipersiapkan?

  1. Doa

Saya berdoa sungguh-sungguh ingin melanjutkan sekolah sejak akhir masa PTT. Padahal sebelum PTT, belum ada niatan untuk mendaftar PPDS.

Kok bisa jadi berubah pikiran?

Hm, gimana ya. Namanya juga hidup. Hehe…

Sempat impulsif daftar PPDS setelah PTT. Mungkin Allah tahu kalau saya belum siap dan ini bukan pilihan terbaik bagi saya, jadi tidak diberi kepercayaan dulu untuk menjalaninya.

  1. Kesiapan dan Restu Orangtua

Ortu harus siap mental, finansial (terutama bila tabungan kita sedikit), dan ikhlas anaknya sekolah lagi. Terutama ibu! Daftar PPDS saya pertama kali gagal. Selain karena alasan diatas, beberapa bulan setelahnya saya baru tahu kalau ibu kurang setuju. XD

Orangtua juga harus diinfokan tentang program Wajib Kerja Dokter Spesialis, kemungkinan penempatan didaerah, kondisinya bagaimana, dll nya. Karena saya pernah PTT, jadi saya lebih mudah memberi gambaran pada orangtua.

  1. Persiapan Mental

mentalhealth
gambar dari sini

Sudah menjadi rahasia umum, beban pendidikan kedokteran di Indonesia itu tidak hanya berat dalam bidang akademis. Pertama yang harus dilakukan adalah mencari informasi, hal berat apa saja yang sekiranya akan kita alami nantinya. Kedua, cari tahu kelemahan diri kita apa bila ada di situasi tersebut, kemudian coba perbaiki. Kalau perlu baca buku dan cari teori atau hasil penelitian yang sekiranya bisa kita terapkan. Ketiga, cari support system yang baik; dalam hal ini keluarga dan sahabat. Bila perlu, buat mereka paham tentang sistem pendidikan yang akan kita dijalani nantinya. Minta izin dari sekarang supaya mereka tidak keberatan kalau-kalau nantinya kita tiba-tiba menangis atau mengeluh saat kondisi kita rapuh. Minta mereka untuk menguatkan kita bila saat itu tiba.

Harus diingat. Apa yang berat bagi orang lain, belum tentu itu berat bagi kita. Begitu pula sebaliknya. Jangan lupa minta saran dari orang-orang sekitar kita. Ada salah satu nasehat paling makjleb dari ayah saya: Jangan pernah takut berada dalam dikondisi apapun, selama Quran selalu dibaca dan menjadi pedoman hidup kita. Bisakah saya? T.T

Mengapa persiapan mental ini sangat penting bagi saya?

Keluarga saya tidak ada satupun yang memiliki latar belakang di bidang kesehatan. Saya tidak ingin mereka khawatir. Selain itu, ini merupakan konsekuensi dari pilihan yang saya ambil. Artinya, saya harus lebih dewasa. Dan salah satu kedewasaan menurut saya adalah meminimalisir rasa khawatir keluarga, terutama orangtua.

  1. Persiapan Akademik

Kalau mau jujur, persiapan akademik saya boleh jadi tidak sampai 5%.

Saya mulai mengumpulkan soal sejak bulan Agustus 2015, mencari tahu cara belajar yang efektif, dan menyusun jadwal belajar sejak bulan September. Tapi yaa karena bekerja di dua tempat dan dua kota, tentu saya tidak dan tidak akan pernah efektif. Baca sih baca, tapi karena fisik lelah, tidak ada yang masuk. Wkwkwk… Akhirnya akhir 2015 saya putuskan untuk magang setelah kontrak saya sebagai full timer berakhir di salah satu tempat kerja. Tujuannya hanya satu: supaya terpacu untuk belajar dan lebih mudah pemahamannya karena ada tempat bertanya dan diajak berdiskusi. Apalagi kondisi saya di daerah, tidak punya teman belajar bersama.

Apakah perlu magang agar menjadi nilai tambah? Entahlah. Teman-teman saya bilang tidak perlu magang kalau ingin masuk sekolah lagi. Makanya sejak awal, saya tidak pernah diniatkan sedikitpun untuk meminta surat rekomendasi. Oia, selama magang, saya masih tetap bekerja di dua tempat dan dua kota, tapi sudah tidak full timer.

Bagi saya, pengalaman magang sebagai observer sangat berkesan. Mungkin kalau dari segi keilmuan tidak banyak yang menempel karena saya pun tidak terlalu rajin belajar. Beliau membesarkan hati saya bahwa transfer pola pikir jauh lebih penting dibandingkan transfer ilmu.

  1. Persiapan Berkas

    • Legalisir Ijazah dan transkrip, surat keterangan bekerja, SK PTT, SMB

    Saya menyiapkan ini sejak bulan Desember, biar tidak pusing. Hehe…

    • Tes Kemampuan Akademik (TKA), pentingkah nilai tinggi?

    Kalau baca tips dan trik TPA di internet, kebanyakan akan menyarankan untuk tidur yang cukup. Karenanya, saya pernah ditegur teman saya. Menurutnya, ada banyak orang ingin sekolah lagi. Jadi kita harus semaksimal mungkin untuk meraih nilai tinggi dalam ujian, termasuk TKA. Kalau perlu belajar dari H-1 bulan.

    Saya belajar di H-3 hari. Alasannya, karena saya sudah pernah ambil tes TKA sebelumnya, dan belajar H-4 minggu sebelum ujian. Jadi sudah tahu betul apa saja yang harus saya perbaiki, terutama dibagian soal gambar/penilaian kemampuan spasial. Nilai TKA saya 735.paket

    • Tes Kemampuan Bahasa Inggris, berapa target yang diperlukan?

    Rata-rata meminta diatas 500. Ada juga beberapa bagian yang mensyaratkan minimal 550. Cari tahu kebutuhan kita yang mana. Kalau tidak pede, cari tahu kelemahan kita dan perbaiki. Tanya orang-orang buku apa yang mudah dipelajari. Untuk teori, saya belajar dari buku les semasa SMA, latihan soal dari buku Barron, dan listening dari software NST (tapi sekarang sudah ga kompatibel lagi laptopnya.hiks). Saya sadar diri kok kalau bahasa inggris saya ga bagus-bagus amat. Nilai TOEFL saya 540.

    • SKCK, surat sehat, surat tidak buta warna, dan surat bebas narkoba.

    Pilih waktu yang kosong untuk mengurusnya. Saya sih santai banget cari waktunya. Dan ternyata ga lama loh! Sistem pelayanan publik sekarang sudah baik dibandingkan dulu. Jadi ga perlu tuh siapkan waktu seharian penuh. Hehe…

    • Mengisi Formulir

    Saya tidak dadakan mengisi isian formulir. Harus dipersiapkan dan dipikirkan dengan matang. Recall lagi kita pernah punya prestasi apa saja. Bongkar-bongkar lagi sertifikat pelatihan yang pernah diikuti. Dan untuk maniak organisasi, tidak perlu dicantumkan semua. Pilih yang benar-benar mendukung dengan pilihan kita.

    Tidak lupa, simpan file backup an di google drive atau dropbox! Khawatir tiba-tiba harus ada yang diubah dan kita tidak bawa laptop atau flashdisk terkena virus. Pernah ada salah satu peserta yang harus ganti lembar terakhir saat pengumpulan berkas karena ternyata format yang dia pakai adalah format lama.

    • Surat Rekomendasi. Minta kemana? Kapan mulai mencari?
      1. Organisasi Profesi

    Jangan mepet! Cari tahu dulu persyaratannya apa saja dan biasanya berapa lama selesainya. Perlukah menghadap dulu, biasanya apa saja yang ditanyakan, dll nya.

    1. Tempat Kerja

    Pastikan tahu peraturan ditempat kita kerja. Misal baru boleh minta surat rekomendasi sekolah setelah kerja 6 bulan atau satu tahun. Jangan sampai kita semangat daftar, tapi malah tidak bisa minta rekomendasi dan tidak punya tempat pulang nantinya.

    Bila kita mendaftar lewat jalur beasiswa, kabarnya lebih terjamin tempat pulang. Enak dan tidak enaknya, ditentuka penempatannya oleh pemberi beasiswa.

    Oia, ada yang bilang kalau dikirim dari instansi pemerintah lebih besar kesempatan diterimanya. Tapi kan bekerja di instansi pemerintah itu belum tentu mudah. Menurut saya sih, jangan berkecil hati bila rekomendasi tempat kerja kita dari instansi swasta. PPDS itu soal takdir.

    Rekomendasi tempat kerja saya pun dari instansi swasta.

    1. Bebas

    Ini rekomendasi dari dokter spesialis. Biasanya dari SMF di tempat kita kerja, dosen pembimbing, tempat magang, dll. Akan lebih menyenangkan bila beliau memang kenal dan tahu kondisi kita. Jangan lupa buat surat permohonan, siapkan CV kita, dan lampirkan dokumen lain yang diperlukan; bahkan bila tidak diminta.

  2. Ujian

    • MMPI, perlukah belajar?

    Saya hanya baca-baca di internet tentang tips-tipsnya. Saya tidak belajar mencari jawaban yang baik bagaimana, tetapi saya belajar untuk memahami maksud soal. Jadi saat ujian, saya tahu apa yang harus saya jawab. Seru loh! Jadi mengingat-ingat diri kita ini bagaimana. Anggap saja self assessment. Sisanya, saya tidur yang cukup.

    • Ujian tulis

    Jangan mengandalkan kumpulan soal! Ilmu itu luas, pun bank soal ada banyak sekali. Di ujian kemarin, hampir tidak saya temukan soal yang pernah saya baca sebelumnya. Kalau kita punya soal, itu hanya sebagai guideline.

    Oh iya, soal buku. Cari sumber buku apa saja yang perlu dipelajari. Dokter senior saya menyarankan untuk membaca manual textbook yang tipis dan beberapa guideline. Katanya untuk fondasi pemahaman awal lebih cepat. Nanti kalau sudah di pendidikan, baru lah pakai buku betulan. Hehe…

    • Wawancara

    Katanya let it flow, jadi diri sendiri.

    Dan saya belajar. XD

     

     

    moneyLagi-lagi, cari tahu dulu apa saja yang biasanya ditanyakan. Kebanyakan sih abstrak, dan ga semua orang mau cerita detail karena sangat personal. Termasuk saya. XD

    Apa yang saya pelajari:

    1. Pertanyaan apa saja yang muncul.
    2. Apa jawaban yang diharapkan penguji.
    3. Cara menjawab (dengan cara diplomatis).
    4. Konsep tentang wawancara. Apa yang sebenarnya dicari dari diri kita?
    5. Cara memperkenalkan diri.

    Lucunya, kelima hal diatas tidak ada yang keluar satupun saat wawancara. Haha! Tapi jelas persiapan membuat kita lebih percaya diri.

    Ada hal yang menurut saya amat penting sebelum mendaftar sekolah dan menghadapi tes wawancara: berbaik sangka dan tidak berasumsi.

    Misalnya begini,

    Pasti akan ditanya soal perencanaan berkeluarga. Saya pernah ngobrol dengan orang lain yang mempertanyakan “Kenapa sih mau tahu urusan orang?”

    Percayalah, pewawancara itu tidak iseng. Pun dengan aturan yang berlaku (misal beberapa bagian mensyaratkan tidak boleh hamil ditahun pertama). Mereka hanya ingin memastikan kita tidak terhambat atau dalam posisi berbahaya selama masa pendidikan. Waktu saya ujian PPDS pertama kali, seorang dokter memberi tahu kalau lamanya peserta didik lulus akan mempengaruhi akreditasi bagian.

    Wawancara itu bagian yang tidak bisa ditebak. Saya pun sangat pesimis kalau sudah menyangkut soal ini. Jadi selebihnya, banyak berdoa.

  3. Berdoa lagi.

Di fase penantian pengumuman, saya berdoa pada Allah dengan penuh kesungguhan untuk dikuatkan hati, apapun keputusanNya. Kalau tidak diterima lagi ya tinggal ikut ujian berikutnya sebagai retaker. Kalau diterima, minta dikuatkan lagi agar dimampukan dan dimudahkan untuk menjalani pendidikan sampai akhir.

Satu langkah keberhasilan hidup kita adalah berkat doa orang-orang yang mencintai kita. Dukungan mereka sangat besar. Maka bersyukurlah karenanya.

Oia, senior-senior saya ditempat kerja, tak lupa memberi semangat dan masukan bagaimana bila nanti menjalani pendidikan. Ini favorit saya:

  1. Low profile. High Performance. Jadikan belajar sebuah kebiasaan.

  2. Kalau udah keterima, jangan disia-siakan (karena) udah dikasih kesempatan. Pasti berat, terutama cape hate mah. (Tapi) tenang we. Ada hepamax.

Terima kasih sudah mampir dan membaca. Semoga memberikan manfaat. Bila berkenan, mohon doakan dengan ikhlas supaya saya dan dokter-dokter lain yang sekolah diberikan kekuatan dan dimudahkan dalam menjalani proses pendidikan. Amiiin

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 26, 2017 by in Uncategorized and tagged , .

Navigation

%d bloggers like this: